Pajak Dibayar, Rakyat Menunggu Jawaban

Pajak Dibayar, Rakyat Menunggu Jawaban

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Setiap hari, rakyat menjalankan kewajibannya melalui pajak yang mereka bayarkan dari aktivitas ekonomi dan penghasilan mereka.

Di balik setiap rupiah pajak ada kerja, waktu, dan pengorbanan. Harapan di baliknya sederhana, apakah uang yang dibayarkan akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan, pembangunan, dan kehidupan yang lebih baik.

Harapan itu sebenarnya tidak muluk. Rakyat ingin jalan yang layak, pelayanan kesehatan yang mudah, pendidikan yang baik, pasar yang tertata, birokrasi yang tidak mempersulit, serta lingkungan yang mendukung kehidupan dan usaha.

Karena itu, ketika pemerintah membelanjakan uang publik, ukuran keberhasilan semestinya tidak berhenti pada berapa besar anggaran terserap, berapa banyak program dilaksanakan, atau berapa banyak kegiatan digelar. Pertanyaan yang lebih penting adalah, sejauh mana semua itu menjawab kebutuhan rakyat?

Sebuah gedung bisa berdiri megah, proyek bisa selesai tepat waktu, dan acara bisa berlangsung meriah.

Namun setelah peresmian dan seremoni berakhir, masyarakat kembali pada kehidupan sehari-hari.

Apakah jalan yang mereka lalui menjadi lebih baik? Apakah biaya hidup dan biaya usaha menjadi lebih ringan? Apakah pelayanan menjadi lebih cepat? Apakah waktu mereka lebih banyak untuk bekerja dan keluarga?

Di situlah pembangunan seharusnya menemukan ukurannya. Rakyat tidak hidup dari angka serapan anggaran, tetapi dari manfaat yang lahir setelah anggaran itu digunakan.

Ukuran yang sama berlaku bagi dunia usaha. Pelaku usaha dan investor, mereka tidak hanya melihat kemegahan pembangunan, tetapi menghitung biaya logistik, listrik, air, konektivitas, kepastian aturan, dan kemudahan berusaha.

Karena itu, pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang terlihat, melainkan yang mampu mengurangi biaya, waktu, dan ketidakpastian.

Sebuah program mungkin berhasil secara administratif, tetapi keberhasilannya menjadi lebih bermakna ketika mampu mendorong produktivitas, membuka kesempatan ekonomi, dan membuat masyarakat lebih mudah menjalankan kehidupannya.

Tentu, tidak semua persoalan dapat diselesaikan pemerintah dalam waktu singkat. Pembangunan membutuhkan proses, sementara kebutuhan masyarakat terus berubah.

Karena itu, kritik terhadap penggunaan anggaran bukan berarti menolak pembangunan. Justru kritik diperlukan agar pembangunan tidak berhenti pada laporan, angka pencapaian, dan seremoni.

Setiap rupiah uang publik layak ditanya manfaatnya, bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memastikan bahwa uang yang berasal dari rakyat benar-benar kembali kepada rakyat dalam bentuk yang mereka rasakan.

Kepercayaan kepada pemerintah tidak dibangun hanya melalui janji dan laporan keberhasilan. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat merasakan negara hadir dalam persoalan nyata mereka.

Rakyat sudah membayar pajak sebagai kewajibannya. Kini, harapan mereka menunggu jawaban, bukan hanya dalam bentuk program dan angka, tetapi dalam bentuk pelayanan yang lebih baik, beban yang lebih ringan, kesempatan yang lebih luas, dan kehidupan yang benar-benar menjadi lebih baik. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)