Perempuan Kuat “Tonji”

HARIAN.NEWS — Siapa bilang perempuan itu lemah? Di tengah kemacetan jalan Antang Raya, Makassar, seorang perempuan membuktikan bahwa ketangguhan tidak mengenal gender.
“Inne nake jadi padorong-dorong oto kuat tonji , (Ini saya bisa dorong mobil, kuat juga), “seperti itulah kira-kira yang ada di pikirannya dalam logat Makassar.
Perempuan tidak selalu bisa memutuskan musik kehidupan yang dia suka, tapi dia bisa memilih berdansa bersama musik yang ada.
Kejadian ini berlangsung di bulan Ramadan, saat angkutan umum yang saya tumpangi di daerah Antang Raya, tiba-tiba mogok akibat mesin yang terlalu panas. Sopir berusaha menyalakan kembali kendaraan, namun mesin tetap tak mau menyala.
Saat sebagian penumpang mulai gelisah, tanpa ragu, seorang perempuan yang ternyata istri sopir turun dari mobil.
Kebetulan istri sopir ikut duduk di depan sebelah kiri. Dengan gerak cepat (gercep) dia turun dan ikut dorong. Aha! berhasil, mobilpun berbunyi kembali.
Betapa kuatnya istri pejuang rupiah ini. Tanpa ragu tanpa malu sigap membantu. Tidak sanggup menyaksikan realitas, sementara diluar sana terlalu banyak kita jumpai dimana-mana orang berebut bahkan begitu tega terkadang menjadi serigala terhadap mahluk lain.
Hidup adalah ujian kesabaran sesuai yang diamanatkan dalam Quran.
“Bersabarlah atas apa yang menimpamu”. Kalam Ilahi yang menenangkan batin. Tidak terlalu mempengaruhi emosi berlebihku yang merupakan kelemahanku. Sering larut dalam situasi situasi tertentu, hidup terus berjalan.
Semua perempuan dimuka bumi pasti pernah mengalami satu kondisi yang tidak pernah terbayangkan menimpa. Dihadapkan oleh situasi yang memaksa melakukan hal yang dia tidak dia inginkan, darurat dan harus diselesaikan.
Mereka juga ingin dimanjakan, dielu-elukan, disanjung dan dirayu oleh kalimat romantis bak pujangga oleh pasangan atau kekasih hatinya.
Melelah hatinya jika dibuatkan puisi, apalagi dengan kalimat yang mengaduk perasaan. Karya puitis bisa disimak, betapa mengharu biru.
“Ketika ia berkata bisakah kita saling mencintai. Kamu berkata, tentu. Kau boleh mengalir disela-sela butir darahku, keluar masuk dinding-dinding sel di tubuhku. Tapi jangan sekali-kali kamu pura-pura bertanya kapan boleh pergi. Atau seenaknya melupakan percintaan ini. Sampai huruf terakhir sajak ini kaulah yang harus bertanggung jawab atas air mataku”.
Manusiawi perasaan manusia kadang naik kadang turun memang seperti itu faktanya.
Semoga ibadah puasa hari ini kita diberkahi kekuatan dan semangat menjalankan shaum dengan segala cerita seru. Wallahu a’lam bish shawab ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA, PEMRED HARIAN.NEWS