Pergantian Kepala BGN dan Penggeledahan, Kebetulan atau Tidak?

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kamis malam kembali mempertemukan empat pelanggan tetap Warkop DK10.
Om Haria, Mas Bro, Deng Kio, dan tentu saja Daeng La’lang yang selalu muncul tanpa undangan tetapi sering pulang membawa kesimpulan.
Malam itu suasana Warkop DK10 sedikit berbeda.
Biasanya yang ramai dibahas soal sepak bola, harga cabai, atau tetangga yang tiba-tiba beli mobil baru. Kali ini topiknya jauh lebih serius: penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN).
Om Haria membuka percakapan sambil mengaduk kopi.
“Kalau kantor pemerintah sampai digeledah aparat penegak hukum, berarti ada sesuatu yang sedang dicari.”
Deng Kio mengangguk cepat.
“Ya iyalah. Masa datang cuma numpang lihat-lihat ruangan.”
Meja langsung pecah oleh tawa.
Mas Bro tersenyum tipis.
“Penggeledahan itu bukan kegiatan wisata. Biasanya dilakukan untuk mencari dan mengamankan alat bukti yang dianggap penting dalam suatu perkara.”
Om Haria kemudian melanjutkan.
“Apalagi sebelumnya sudah ada pergantian pimpinan BGN. Publik tentu bertanya-tanya apakah dua peristiwa itu saling berkaitan atau tidak.”
Deng Kio menyeruput kopi susunya.
“Kalau masyarakat bertanya-tanya itu wajar. Namanya juga informasi belum lengkap.”
Mas Bro mengangguk.
“Yang tidak boleh itu langsung menyimpulkan sebelum proses hukum selesai.”
Suasana sejenak hening.
Hanya suara sendok beradu cangkir yang terdengar.
Mas Bro kembali melanjutkan.
“Kalau aparat melakukan penggeledahan, berarti mereka sedang bekerja mengumpulkan fakta. Bukan opini, bukan asumsi, tetapi fakta.”
Om Haria menimpali.
“Makanya pemerintah juga meminta masyarakat menunggu hasil penyelidikan dan penyidikan.”
Deng Kio tertawa kecil.
“Masalahnya sekarang media sosial lebih cepat daripada aparat.”
“Belum ada hasil resmi, kesimpulannya sudah keliling kampung,” sambungnya.
Semua tertawa lagi.
Tiba-tiba dari sudut meja terdengar suara khas Daeng La’lang.
“Di negeri ini kadang-kadang gosip sudah lari 100 meter, faktanya baru pakai sepatu.”
Meja langsung pecah oleh gelak tawa.
Daeng La’lang lalu melanjutkan dengan gaya serius yang jarang terlihat.
“Tapi satu hal yang pasti, kalau ada isu yang membuat publik resah, maka cara terbaik menjawabnya adalah keterbukaan dan penegakan hukum.”
Mas Bro mengangguk.
“Itu inti persoalannya.”
“Kalau memang ada pelanggaran, biarkan hukum berbicara.”
“Kalau tidak ada, biarkan fakta yang membersihkan nama pihak terkait.”
Om Haria kemudian mengangkat cangkirnya.
“Yang penting jangan sampai program yang menyangkut kepentingan masyarakat terganggu.”
Deng Kio menyela.
“Apalagi urusan gizi rakyat. Itu bukan perkara kecil.”
Mas Bro kembali memberi penekanan.
“Justru karena menyangkut rakyat banyak, tata kelola harus semakin baik, semakin transparan, dan semakin akuntabel.”
Daeng La’lang yang dari tadi sibuk menghabiskan pisang goreng mendadak mengangkat jari telunjuk.
“Jadi kesimpulannya begini.”
Semua menoleh.
“Kalau ada penggeledahan, biarkan aparat bekerja.”
“Kalau ada isu, biarkan fakta yang menjawab.”
“Kalau ada dugaan, biarkan bukti yang berbicara.”
“Dan kalau ada gorengan tersisa, biarkan saya yang menghabiskan.”
Seketika seluruh meja tertawa terbahak-bahak.
Kopi tinggal ampas.
Pisang goreng tinggal remah.
Namun satu pelajaran malam itu tetap tersisa:
Dalam setiap peristiwa besar, publik boleh bertanya. Tetapi kesimpulan terbaik tetap harus menunggu fakta dan hasil kerja penegak hukum. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG