Om Haria kemudian mengangkat cangkirnya.
“Yang penting jangan sampai program yang menyangkut kepentingan masyarakat terganggu.”
Baca Juga : Keluar dari Kejagung, Dadan Hindayana Kenakan Rompi Tahanan
Deng Kio menyela.
“Apalagi urusan gizi rakyat. Itu bukan perkara kecil.”
Mas Bro kembali memberi penekanan.
Baca Juga : Kantor BGN Digeledah Jampidsus, Pegawai Tak Bisa Masuk
“Justru karena menyangkut rakyat banyak, tata kelola harus semakin baik, semakin transparan, dan semakin akuntabel.”
Daeng La’lang yang dari tadi sibuk menghabiskan pisang goreng mendadak mengangkat jari telunjuk.
“Jadi kesimpulannya begini.”
Baca Juga : Dadan Dipecat dan Diganti Nanik sebagai Kepala BGN, Irma Sebut Wajar
Semua menoleh.
“Kalau ada penggeledahan, biarkan aparat bekerja.”
“Kalau ada isu, biarkan fakta yang menjawab.”
Baca Juga : Pemerintah Siapkan Dashboard MBG Terbuka, Guru Bisa Lapor Menu Bosen
“Kalau ada dugaan, biarkan bukti yang berbicara.”
“Dan kalau ada gorengan tersisa, biarkan saya yang menghabiskan.”
Seketika seluruh meja tertawa terbahak-bahak.
Kopi tinggal ampas.
Pisang goreng tinggal remah.
Namun satu pelajaran malam itu tetap tersisa:
Dalam setiap peristiwa besar, publik boleh bertanya. Tetapi kesimpulan terbaik tetap harus menunggu fakta dan hasil kerja penegak hukum. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
