Profil Jumhur Hidayat: Aktivis ITB yang Pernah Dipenjara, Kini Menteri Lingkungan Hidup

Profil Jumhur Hidayat: Aktivis ITB yang Pernah Dipenjara, Kini Menteri Lingkungan Hidup

HARIAN.NEWS,JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dalam reshuffle kabinet, pada Senin (27/4/2026).

Nama Jumhur langsung mencuri perhatian. Bukan tanpa alasan. Pria kelahiran Bandung, 18 Februari 1968 ini adalah aktivis mahasiswa tulen yang pernah mendekam di penjara karena aksinya menolak Menteri Dalam Negeri Orde Baru, Rudini, di kampus ITB tahun 1989.

Bagaimana rekam jejak pendidikan dan intelektual sosok yang menggantikan Hanif Faisol ini? Berikut ulasannya.

Pendidikan yang Berpindah-pindah

Jumhur Hidayat memiliki riwayat pendidikan yang tidak biasa. Mengikuti penugasan orang tuanya, ia berpindah-pindah sekolah.

– SD: SD Negeri Menteng 02 Pagi, Jakarta Pusat (1974–1980)
– SMP: SMP Negeri 1 Cikini, Jakarta, lalu pindah ke SMP Negeri 1 Denpasar, Bali
– SMA: SMA Negeri 1 Denpasar, kemudian menuntaskan di SMA Negeri 3 Bandung

SMA Negeri 3 Bandung dikenal sebagai sekolah pencetak tokoh besar nasional. Di sanalah jiwa kritis Jumhur mulai terasah.

Kampus ITB dan Penjara 1989

Jumhur melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB), mengambil jurusan Teknik Fisika. Namun, aktivitas pergerakannya membuat namanya tercatat dalam sejarah perlawanan mahasiswa.

Saat mahasiswa ITB, ia ikut menolak kedatangan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus pada 1989. Akibat aksi itu, ia ditangkap dan dipenjara. Masa studinya pun terhambat.

Lulus Teknik Fisika Unas, Lanjut S2 Sosiologi UI

Setelah bebas, semangat akademisnya tidak padam. Jumhur melanjutkan studi Teknik Fisika di Universitas Nasional (Unas) dan lulus pada 1996.

Ia tidak berhenti di situ. Jumhur kemudian memperluas cakrawala ke humaniora dengan meraih gelar Master of Science (M.Sc.) di bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI).

Perpaduan ilmu teknik (logis dan sistematis) dan sosiologi (humanis dan kritis) menjadi karakter intelektualnya yang unik. Kombinasi ini dinilai sangat relevan untuk mengelola kebijakan lingkungan yang membutuhkan data teknis sekaligus kepekaan sosial.

Pelatihan Internasional Memperkuat Kapasitas

Kapasitas kepemimpinannya terus diasah melalui berbagai pelatihan di luar negeri:

– 1992 – Program Strategi Alternatif Pembangunan di Asia Tenggara, Kuala Lumpur
– 1996 – Pelatihan Demokrasi, Manila, Filipina
– 2000 – Program Penguatan Serikat Pekerja, ILO-Norwegia

Rekam jejak ini menjadikan Jumhur seorang menteri yang tidak hanya kaya teori, tetapi juga matang dalam diplomasi dan pergerakan.

Jejak Karier: Dari Sekjen Partai hingga Kepala BNP2TKI

Sebelum menjadi menteri, Jumhur sudah malang melintang di dunia politik dan birokrasi:

– 1999 – Sekretaris Jenderal Partai Daulat Rakyat
– 2002 – Sekretaris Jenderal Partai Sarikat Indonesia
– 2007–2014 – Kepala BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) era Presiden SBY

Selama tujuh tahun memimpin BNP2TKI, ia menunjukkan kemampuan manajemen birokrasi skala nasional. Ia juga dikenal sebagai aktivis buruh dan sosial yang kerap terlihat bersama tokoh intelektual seperti Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan.

Mengapa Sarjana Teknik Cocok Jadi Menteri Lingkungan Hidup?

Penunjukan Jumhur Hidayat—seorang sarjana teknik—untuk memimpin kementerian yang fokus pada pengendalian lingkungan dinilai strategis.

Masalah lingkungan modern seperti emisi karbon, limbah industri, polusi udara berbasis data, dan penerapan teknologi hijau membutuhkan pendekatan presisi. Latar belakang Teknik Fisika memberikan Jumhur kemampuan berpikir sistematis dan analitis.

Namun, ia juga dibekali ilmu sosiologi. Lingkungan hidup bukan hanya soal angka. Ada dimensi sosial, ekonomi, dan politik yang harus dikelola.

Tantangan terbesarnya sekarang: menyeimbangkan industrialisasi dan pelestarian alam di bawah komando Presiden Prabowo.

“Perpaduan teknik dan sosiologi inilah kekuatan Jumhur. Dia bisa membaca data sekaligus merasakan denyut masyarakat,” ujar seorang pengamat politik yang tidak ingin disebutkan namanya. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG