Pelatihan Internasional Memperkuat Kapasitas
Kapasitas kepemimpinannya terus diasah melalui berbagai pelatihan di luar negeri:
Baca Juga : Reshuffle Kelima Prabowo: 6 Jabatan Strategis Berganti
– 1992 – Program Strategi Alternatif Pembangunan di Asia Tenggara, Kuala Lumpur
– 1996 – Pelatihan Demokrasi, Manila, Filipina
– 2000 – Program Penguatan Serikat Pekerja, ILO-Norwegia
Rekam jejak ini menjadikan Jumhur seorang menteri yang tidak hanya kaya teori, tetapi juga matang dalam diplomasi dan pergerakan.
Jejak Karier: Dari Sekjen Partai hingga Kepala BNP2TKI
Baca Juga : Presiden Prabowo Lantik Sejumlah Pejabat Baru dalam Reshuffle Kabinet
Sebelum menjadi menteri, Jumhur sudah malang melintang di dunia politik dan birokrasi:
– 1999 – Sekretaris Jenderal Partai Daulat Rakyat
– 2002 – Sekretaris Jenderal Partai Sarikat Indonesia
– 2007–2014 – Kepala BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) era Presiden SBY
Selama tujuh tahun memimpin BNP2TKI, ia menunjukkan kemampuan manajemen birokrasi skala nasional. Ia juga dikenal sebagai aktivis buruh dan sosial yang kerap terlihat bersama tokoh intelektual seperti Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan.
Baca Juga : Dag Dig Dug Reshuffle Kabinet
Mengapa Sarjana Teknik Cocok Jadi Menteri Lingkungan Hidup?
Penunjukan Jumhur Hidayat—seorang sarjana teknik—untuk memimpin kementerian yang fokus pada pengendalian lingkungan dinilai strategis.
Masalah lingkungan modern seperti emisi karbon, limbah industri, polusi udara berbasis data, dan penerapan teknologi hijau membutuhkan pendekatan presisi. Latar belakang Teknik Fisika memberikan Jumhur kemampuan berpikir sistematis dan analitis.
Baca Juga : Jokowi Respons Isu Bahlil Bakal Jadi Menteri ESDM: Kata Siapa?
Namun, ia juga dibekali ilmu sosiologi. Lingkungan hidup bukan hanya soal angka. Ada dimensi sosial, ekonomi, dan politik yang harus dikelola.
Tantangan terbesarnya sekarang: menyeimbangkan industrialisasi dan pelestarian alam di bawah komando Presiden Prabowo.
“Perpaduan teknik dan sosiologi inilah kekuatan Jumhur. Dia bisa membaca data sekaligus merasakan denyut masyarakat,” ujar seorang pengamat politik yang tidak ingin disebutkan namanya. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

