Tenaga KDMP dan KNMP untuk Mencetak Kader Pembangunan Bukan Korban Kelalaian

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pemerintah tengah mendorong program Tenaga KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) dan KNMP (Koperasi Nelayan Merah Putih) sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan melalui keterlibatan langsung tenaga muda terdidik dalam pengelolaan koperasi desa dan sektor kelautan.
Program ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja, memberdayakan desa, dan menguatkan rantai ekonomi dari bawah.
Namun di balik tujuan besar itu, muncul catatan serius ketika keselamatan dalam proses pelatihan dipertanyakan. Kabar adanya korban jiwa makin menguatkan kekhawatiran tersebut.
Mereka adalah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), calon manajer KDMP dan KNMP, Anisa Musyawaroh asal Lamongan dan Yohanda Muhammad dari Sumatera Selatan.
Peristiwa ini memunculkan kembali pertanyaan mendasar, apakah kita benar-benar sedang mencetak kader pembangunan, atau justru membiarkan kelalaian menjadi bagian dari sistem?
Peristiwa seperti ini tidak boleh dianggap sebagai risiko biasa yang harus diterima begitu saja. Sebab di titik inilah kita diuji, apakah program ini benar-benar dirancang untuk membangun manusia, atau justru terlalu fokus mengejar target dan angka keberhasilan?
Memang benar, negara membutuhkan orang-orang yang tangguh. Bekerja di desa terpencil atau wilayah pesisir bukan pekerjaan ringan. Tantangan medan, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan kerja menuntut kesiapan mental dan fisik yang baik. Tidak ada yang menyangkal hal itu.
Tetapi ketangguhan tidak sama dengan pengabaian keselamatan.
Pelatihan yang keras bukan berarti boleh mengesampingkan pemeriksaan kesehatan yang ketat, pemetaan risiko yang matang, serta prosedur keselamatan yang benar-benar dijalankan.
Disiplin diperlukan, tetapi keselamatan adalah syarat mutlak. Program yang baik seharusnya mampu membentuk karakter tanpa mempertaruhkan nyawa peserta.
Kita juga perlu berhenti memandang korban sebagai bagian dari “harga yang harus dibayar” demi keberhasilan program. Logika seperti itu mungkin terdengar heroik, tetapi berbahaya. Sebab pembangunan tidak pernah berhasil ketika manusia yang menjadi subjeknya justru dikorbankan.
Tujuan utama KDMP dan KNMP adalah menciptakan kesejahteraan. Dan kesejahteraan hanya bisa dibangun oleh orang-orang yang sehat, selamat, dan mampu mengabdi dalam jangka panjang. Statistik penyerapan tenaga kerja tidak akan berarti banyak jika dibayangi oleh daftar korban yang seharusnya bisa dicegah.
Karena itu, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan. Bukan untuk melemahkan program, melainkan untuk memperkuatnya. Seleksi kesehatan harus lebih serius, standar pelatihan harus berbasis keselamatan, dan mekanisme pengawasan harus berjalan nyata, bukan sekadar formalitas di atas kertas.
Bangsa ini memang membutuhkan pahlawan pembangunan. Kita membutuhkan anak-anak muda yang siap menggerakkan koperasi, menjaga ketahanan pangan, dan membangun ekonomi kerakyatan dari akar rumput. Tetapi pahlawan tidak diciptakan melalui kelalaian.
Apakah kita ingin mencetak penggerak perubahan yang mampu mengabdi bagi masyarakat, atau hanya menambah nama dalam daftar peringatan yang sebenarnya bisa dihindari?
Jawabannya berada di tangan para penyelenggara. Dan di mata publik yang terus mengawasi. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)