Pelatihan yang keras bukan berarti boleh mengesampingkan pemeriksaan kesehatan yang ketat, pemetaan risiko yang matang, serta prosedur keselamatan yang benar-benar dijalankan.
Disiplin diperlukan, tetapi keselamatan adalah syarat mutlak. Program yang baik seharusnya mampu membentuk karakter tanpa mempertaruhkan nyawa peserta.
Baca Juga : Pers Bermartabat Ketika Memilih Tidak Mengadili
Kita juga perlu berhenti memandang korban sebagai bagian dari “harga yang harus dibayar” demi keberhasilan program. Logika seperti itu mungkin terdengar heroik, tetapi berbahaya. Sebab pembangunan tidak pernah berhasil ketika manusia yang menjadi subjeknya justru dikorbankan.
Tujuan utama KDMP dan KNMP adalah menciptakan kesejahteraan. Dan kesejahteraan hanya bisa dibangun oleh orang-orang yang sehat, selamat, dan mampu mengabdi dalam jangka panjang. Statistik penyerapan tenaga kerja tidak akan berarti banyak jika dibayangi oleh daftar korban yang seharusnya bisa dicegah.
Karena itu, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan. Bukan untuk melemahkan program, melainkan untuk memperkuatnya. Seleksi kesehatan harus lebih serius, standar pelatihan harus berbasis keselamatan, dan mekanisme pengawasan harus berjalan nyata, bukan sekadar formalitas di atas kertas.
Baca Juga : 1-10 Muharram: Saatnya Memulai Hijrah dari Hal yang Paling Dekat
Bangsa ini memang membutuhkan pahlawan pembangunan. Kita membutuhkan anak-anak muda yang siap menggerakkan koperasi, menjaga ketahanan pangan, dan membangun ekonomi kerakyatan dari akar rumput. Tetapi pahlawan tidak diciptakan melalui kelalaian.
Apakah kita ingin mencetak penggerak perubahan yang mampu mengabdi bagi masyarakat, atau hanya menambah nama dalam daftar peringatan yang sebenarnya bisa dihindari?
Jawabannya berada di tangan para penyelenggara. Dan di mata publik yang terus mengawasi. ***
Baca Juga : Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
