HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pemerintah tengah mendorong program Tenaga KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) dan KNMP (Koperasi Nelayan Merah Putih) sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan melalui keterlibatan langsung tenaga muda terdidik dalam pengelolaan koperasi desa dan sektor kelautan.
Program ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja, memberdayakan desa, dan menguatkan rantai ekonomi dari bawah.
Baca Juga : Pers Bermartabat Ketika Memilih Tidak Mengadili
Namun di balik tujuan besar itu, muncul catatan serius ketika keselamatan dalam proses pelatihan dipertanyakan. Kabar adanya korban jiwa makin menguatkan kekhawatiran tersebut.
Mereka adalah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), calon manajer KDMP dan KNMP, Anisa Musyawaroh asal Lamongan dan Yohanda Muhammad dari Sumatera Selatan.
Peristiwa ini memunculkan kembali pertanyaan mendasar, apakah kita benar-benar sedang mencetak kader pembangunan, atau justru membiarkan kelalaian menjadi bagian dari sistem?
Baca Juga : 1-10 Muharram: Saatnya Memulai Hijrah dari Hal yang Paling Dekat
Peristiwa seperti ini tidak boleh dianggap sebagai risiko biasa yang harus diterima begitu saja. Sebab di titik inilah kita diuji, apakah program ini benar-benar dirancang untuk membangun manusia, atau justru terlalu fokus mengejar target dan angka keberhasilan?
Memang benar, negara membutuhkan orang-orang yang tangguh. Bekerja di desa terpencil atau wilayah pesisir bukan pekerjaan ringan. Tantangan medan, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan kerja menuntut kesiapan mental dan fisik yang baik. Tidak ada yang menyangkal hal itu.
Tetapi ketangguhan tidak sama dengan pengabaian keselamatan.
Baca Juga : Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
