Usai Damai PWI–Hotman Paris, Martabat Jurnalis Tetap Menjadi Pertanyaan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kesepakatan damai antara PWI dan Hotman Paris boleh saja mengakhiri polemik secara organisasi. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar justru muncul setelahnya, siapa yang memulihkan martabat profesi jurnalis ketika mereka telanjur dipersepsikan sebagai orang-orang yang “tidak punya otak”?
Yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan sekadar hubungan antara dua pihak yang berselisih, melainkan penghormatan terhadap profesi jurnalistik sebagai salah satu pilar demokrasi yang bekerja untuk kepentingan publik.
Jurnalisme pekerjaannya bukan hanya menyampaikan berita, melainkan proses intelektual yang menuntut ketelitian, independensi, integritas, dan tanggung jawab.
Di balik setiap laporan terdapat proses panjang mencari fakta, memverifikasi informasi, mengonfirmasi berbagai pihak, hingga menghadapi tekanan di lapangan.
Tidak sedikit jurnalis yang harus meliput bencana, konflik, atau peristiwa berisiko demi memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipercaya.
Karena itu, ketika kerja jurnalistik direduksi menjadi sesuatu yang seolah tidak memerlukan kecerdasan, integritas, dan profesionalisme, yang tercoreng bukan hanya perasaan individu wartawan. Yang ikut direndahkan adalah nilai dari proses pencarian kebenaran itu sendiri.
Wartawan memang bukan profesi yang kebal terhadap kritik, tetapi kritik terhadap karya jurnalistik sangat berbeda dengan penghinaan terhadap profesinya. Kritik bertujuan memperbaiki kualitas, sedangkan penghinaan berpotensi mengikis penghormatan terhadap kerja jurnalistik.
Perdamaian antara kedua belah pihak patut diapresiasi sebagai penyelesaian konflik. Namun, penyelesaian sengketa tidak serta-merta menghapus dampak sosial dari kata-kata yang telah terucap.
Figur publik memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara masyarakat memandang suatu profesi.
Ketika profesi wartawan direndahkan, kepercayaan publik terhadap media juga berisiko ikut tergerus. Padahal, di tengah derasnya arus disinformasi, masyarakat justru membutuhkan jurnalisme yang kuat, profesional, dan kredibel.
Polemik semacam ini juga sebaiknya tidak berkembang menjadi drama berkepanjangan yang menyita perhatian publik.
Energi semua pihak akan jauh lebih bermanfaat jika diarahkan pada isu-isu yang lebih substansial, seperti penguatan kebebasan pers, peningkatan kualitas jurnalistik, perlindungan terhadap jurnalis, serta pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
Perdebatan yang berlarut-larut hanya berisiko mengaburkan persoalan yang lebih penting bagi kepentingan publik.
Damai memang merupakan akhir yang baik bagi sebuah konflik, tetapi perdamaian tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan pentingnya etika berkomunikasi dan penghormatan terhadap profesi.
Menghormati wartawan bukan berarti menempatkan mereka di atas kritik, melainkan menghargai kerja intelektual, integritas, dan pengabdian yang melahirkan informasi yang dapat dipercaya.
Sebab, tanpa jurnalisme yang dihormati, yang pada akhirnya paling dirugikan bukan hanya para jurnalis, melainkan masyarakat yang kehilangan akses terhadap informasi yang akurat dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)