WFH Boleh Santai, Layanan Jangan Ikut Rebahan!

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Minggu malam di Warkop DK10 selalu punya cerita.
Lampu temaram, kopi hitam pekat, dan gorengan yang entah sudah keberapa kali dipanaskan, jadi saksi kumpulnya tiga sahabat rasa saudara: Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio.
Belum juga kopi dingin, obrolan sudah panas duluan.
“Sekarang ASN tiap Jumat WFH, ya?” buka Om Haria sambil aduk kopi pelan.
Deng Kio langsung nimbrung,
“Wah, enak dong. Jumat rasa libur.”
Mas Bro yang dari tadi fokus sama pisang goreng, langsung angkat kepala.
“Eh, jangan salah. WFH itu kerja dari rumah, bukan rebahan full edition.”
Om Haria ketawa kecil.
“Betul itu. Apalagi yang layanan publik, tetap jalan. Nggak bisa tiba-tiba hilang kayak sinyal pas hujan.”
Deng Kio manggut-manggut.
“Berarti Puskesmas tetap buka dong?”
“Harus!” jawab Mas Bro cepat.
“Coba bayangin kalau orang sakit, datang Jumat, tapi petugasnya lagi WFH sambil nyapu halaman. Bisa runyam.”
Tiba-tiba dari meja sebelah, suara nyeletuk masuk tanpa permisi.
“Yang bahaya itu kalau WFH tapi pikirannya juga ikut libur!”
Ternyata Daeng La’lang, sahabat setia yang selalu muncul di momen tak terduga.
Om Haria langsung nyengir.
“Ini dia komentator dadakan.”
Mas Bro lanjut serius tapi santai,
“Intinya begini. Masyarakat itu nggak peduli ASN kerja dari mana. Mau di kantor, di rumah, atau di atas gunung sekalipun—yang penting urusan beres.”
Deng Kio ikut menimpali,
“Iya juga. Yang penting KTP cepat jadi, izin nggak muter-muter, dan nggak disuruh balik besok terus.”
Om Haria mengangguk.
“Ini sebenarnya bagus. Ubah pola pikir dari ‘hadir di kantor’ jadi ‘hasil kerja nyata’.”
Daeng La’lang kembali nyeletuk,
“Percuma kantor penuh, tapi yang kerja cuma kipas angin sama AC!”
Sontak satu meja ketawa.
Mas Bro melanjutkan dengan nada lebih dalam,
“WFH itu juga soal efisiensi. Hemat listrik, hemat BBM, hemat tenaga. Nggak capek di jalan, energi bisa dipakai kerja.”
“Iya juga,” kata Deng Kio.
“Daripada habis di macet, sampai kantor tinggal sisa semangat.”
“Tapi tetap,” potong Om Haria,
“nggak semua bisa WFH. Kalau rapat penting, ambil keputusan, tetap harus ketemu langsung. Jangan semua diselesaikan lewat chat, nanti salah paham lagi.”
Deng Kio menghela napas kecil.
“Berarti intinya bukan WFH atau WFO, tapi tanggung jawabnya ya?”
Mas Bro tersenyum tipis.
“Pas! Mau kerja di rumah atau di kantor, kalau niatnya benar, hasilnya pasti terasa.”
Daeng La’lang angkat gelas kopi,
“Yang penting jangan WFH tapi Work From Halu!”
Gelak tawa pecah.
Malam makin larut. Kopi tinggal ampas.
Tapi satu hal yang jelas dari obrolan itu:
WFH boleh santai, tapi pelayanan publik jangan sampai ikut-ikutan santai.
Karena bagi masyarakat, yang penting bukan di mana bekerja— tapi seberapa cepat dan tepat mereka dilayani. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG