Deng Kio ikut menimpali,
“Iya juga. Yang penting KTP cepat jadi, izin nggak muter-muter, dan nggak disuruh balik besok terus.”
Om Haria mengangguk.
“Ini sebenarnya bagus. Ubah pola pikir dari ‘hadir di kantor’ jadi ‘hasil kerja nyata’.”
Daeng La’lang kembali nyeletuk,
“Percuma kantor penuh, tapi yang kerja cuma kipas angin sama AC!”
Baca Juga : ASN Sulsel Resmi Jadi Komcad, Wabup Sinjai: Bentuk Kecintaan pada NKRI
Sontak satu meja ketawa.
Mas Bro melanjutkan dengan nada lebih dalam,
“WFH itu juga soal efisiensi. Hemat listrik, hemat BBM, hemat tenaga. Nggak capek di jalan, energi bisa dipakai kerja.”
“Iya juga,” kata Deng Kio.
“Daripada habis di macet, sampai kantor tinggal sisa semangat.”
Baca Juga : Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!
“Tapi tetap,” potong Om Haria,
“nggak semua bisa WFH. Kalau rapat penting, ambil keputusan, tetap harus ketemu langsung. Jangan semua diselesaikan lewat chat, nanti salah paham lagi.”
Deng Kio menghela napas kecil.
“Berarti intinya bukan WFH atau WFO, tapi tanggung jawabnya ya?”
Mas Bro tersenyum tipis.
“Pas! Mau kerja di rumah atau di kantor, kalau niatnya benar, hasilnya pasti terasa.”
Baca Juga : Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!
Daeng La’lang angkat gelas kopi,
“Yang penting jangan WFH tapi Work From Halu!”
Gelak tawa pecah.
Malam makin larut. Kopi tinggal ampas.
Baca Juga : Haji Jalur Cepat vs Jalur Sabar, Pilih Mana?
Tapi satu hal yang jelas dari obrolan itu:
WFH boleh santai, tapi pelayanan publik jangan sampai ikut-ikutan santai.
Karena bagi masyarakat, yang penting bukan di mana bekerja— tapi seberapa cepat dan tepat mereka dilayani. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
