BBM Dibatasi, Gaya Hidup Ikut Disetel?

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Jumat malam di Warkop DK10 kembali ramai. Aroma kopi hitam bercampur suara tawa jadi tanda khas: Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio sudah “reuni” lagi usai libur Lebaran.
Belum juga kopi mendarat sempurna di meja, Om Haria langsung buka topik.
“Sekarang ini bukan cuma dompet yang harus dijaga, BBM juga ikut dijatah,” katanya sambil mengaduk kopi pelan.
Deng Kio terkekeh.
“Baru juga habis THR, eh bensin disuruh hemat.”
Mas Bro yang duduk santai menyela,
“Ini bukan soal hemat biasa. Ini soal darurat energi. Dampak perang di luar sana, kita juga ikut kena imbasnya.”
Om Haria mengangguk.
“Iya, pemerintah mulai batasi BBM subsidi. Tapi kalau dilihat, masih cukup longgar sih.”
Deng Kio langsung nyaut,
“50 liter sehari? Itu sih masih bisa keliling kota sambil cari diskon kopi.”
Mas Bro tersenyum tipis.
“Justru itu. Pembatasan ini bukan buat menyulitkan, tapi buat mengingatkan. Biar kita nggak jor-joran.”
“Jadi ini semacam alarm ya?” tanya Om Haria.
“Betul. Alarm supaya kita sadar, energi itu bukan barang tak terbatas,” jawab Mas Bro.
Deng Kio tampak berpikir sejenak.
“Berarti yang harus dihemat bukan cuma yang pakai subsidi?”
Mas Bro langsung menggeleng.
“Semua harus hemat. Mau pakai BBM subsidi atau non-subsidi, tetap saja sumbernya terbatas. Kalau bukan sekarang kita jaga, nanti kita yang repot.”
Tiba-tiba dari meja sebelah, suara khas logat Makassar ikut nimbrung.
“Betul itu! Jangan mentang-mentang mampu, jadi boros!”
Ketiganya menoleh. Ternyata Daeng La’lang, sohib setia yang terkenal suka nyeletuk.
“Mobil besar isi penuh, tapi isinya cuma satu orang. Itu namanya bukan jalan, tapi pamer,” lanjut Daeng La’lang santai.
Om Haria langsung tertawa.
“Wah, kena juga itu yang hobi keliling tanpa tujuan.”
Deng Kio menimpali,
“Kadang bukan butuh jalan, tapi butuh dilihat.”
Mas Bro menghela napas pelan.
“Padahal hemat BBM itu sederhana. Kurangi perjalanan yang nggak perlu, rawat kendaraan, dan jangan gaya hidup lebih besar dari kebutuhan.”
Daeng La’lang kembali nyeletuk,
“Kalau bisa dekat, kenapa harus jauh? Kalau bisa hemat, kenapa harus nekat?”
Suasana warkop langsung pecah dengan tawa.
Om Haria menutup obrolan dengan nada santai tapi dalam.
“Intinya bukan soal dibatasi atau tidak. Tapi soal kesadaran. Hemat itu bukan karena dipaksa, tapi karena peduli.”
Deng Kio mengangguk setuju.
“Kalau semua nunggu aturan baru bergerak, berarti kita belum benar-benar sadar.”
Mas Bro mengangkat gelas kopinya.
“Kita mungkin nggak bisa hentikan krisis energi. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri.”
Daeng La’lang mengangkat gorengan.
“Minimal, hemat BBM… biar lebih banyak uang buat kopi!”
Tawa kembali pecah.
Kopi habis.
Obrolan selesai.
Tapi pesannya jelas:
hemat energi itu bukan tren, tapi kebutuhan.***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG