Deng Kio tampak berpikir sejenak.
“Berarti yang harus dihemat bukan cuma yang pakai subsidi?”
Mas Bro langsung menggeleng.
“Semua harus hemat. Mau pakai BBM subsidi atau non-subsidi, tetap saja sumbernya terbatas. Kalau bukan sekarang kita jaga, nanti kita yang repot.”
Tiba-tiba dari meja sebelah, suara khas logat Makassar ikut nimbrung.
Baca Juga : Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!
“Betul itu! Jangan mentang-mentang mampu, jadi boros!”
Ketiganya menoleh. Ternyata Daeng La’lang, sohib setia yang terkenal suka nyeletuk.
“Mobil besar isi penuh, tapi isinya cuma satu orang. Itu namanya bukan jalan, tapi pamer,” lanjut Daeng La’lang santai.
Baca Juga : Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!
Om Haria langsung tertawa.
“Wah, kena juga itu yang hobi keliling tanpa tujuan.”
Deng Kio menimpali,
“Kadang bukan butuh jalan, tapi butuh dilihat.”
Mas Bro menghela napas pelan.
“Padahal hemat BBM itu sederhana. Kurangi perjalanan yang nggak perlu, rawat kendaraan, dan jangan gaya hidup lebih besar dari kebutuhan.”
Baca Juga : Haji Jalur Cepat vs Jalur Sabar, Pilih Mana?
Daeng La’lang kembali nyeletuk,
“Kalau bisa dekat, kenapa harus jauh? Kalau bisa hemat, kenapa harus nekat?”
Suasana warkop langsung pecah dengan tawa.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
