HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Jumat malam di Warkop DK10 kembali ramai. Aroma kopi hitam bercampur suara tawa jadi tanda khas: Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio sudah “reuni” lagi usai libur Lebaran.
Belum juga kopi mendarat sempurna di meja, Om Haria langsung buka topik.
“Sekarang ini bukan cuma dompet yang harus dijaga, BBM juga ikut dijatah,” katanya sambil mengaduk kopi pelan.
Baca Juga : Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!
Deng Kio terkekeh.
“Baru juga habis THR, eh bensin disuruh hemat.”
Mas Bro yang duduk santai menyela,
“Ini bukan soal hemat biasa. Ini soal darurat energi. Dampak perang di luar sana, kita juga ikut kena imbasnya.”
Om Haria mengangguk.
“Iya, pemerintah mulai batasi BBM subsidi. Tapi kalau dilihat, masih cukup longgar sih.”
Baca Juga : Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!
Deng Kio langsung nyaut,
“50 liter sehari? Itu sih masih bisa keliling kota sambil cari diskon kopi.”
Mas Bro tersenyum tipis.
“Justru itu. Pembatasan ini bukan buat menyulitkan, tapi buat mengingatkan. Biar kita nggak jor-joran.”
“Jadi ini semacam alarm ya?” tanya Om Haria.
Baca Juga : Haji Jalur Cepat vs Jalur Sabar, Pilih Mana?
“Betul. Alarm supaya kita sadar, energi itu bukan barang tak terbatas,” jawab Mas Bro.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
