HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Jumat malam di Warkop DK10 kembali ramai. Aroma kopi hitam bercampur suara tawa jadi tanda khas: Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio sudah “reuni” lagi usai libur Lebaran.
Belum juga kopi mendarat sempurna di meja, Om Haria langsung buka topik.
Baca Juga : Pengamat Ekonomi Tanggapi Antrean BBM Subsidi di Makassar Sejak Oktober 2026
“Sekarang ini bukan cuma dompet yang harus dijaga, BBM juga ikut dijatah,” katanya sambil mengaduk kopi pelan.
Deng Kio terkekeh.
“Baru juga habis THR, eh bensin disuruh hemat.”
Mas Bro yang duduk santai menyela,
“Ini bukan soal hemat biasa. Ini soal darurat energi. Dampak perang di luar sana, kita juga ikut kena imbasnya.”
Baca Juga : Pertamina Patra Niaga Tegaskan Soal Amera Desak Transparansi BBM dan LPG Subsidi
Om Haria mengangguk.
“Iya, pemerintah mulai batasi BBM subsidi. Tapi kalau dilihat, masih cukup longgar sih.”
Deng Kio langsung nyaut,
“50 liter sehari? Itu sih masih bisa keliling kota sambil cari diskon kopi.”
Mas Bro tersenyum tipis.
“Justru itu. Pembatasan ini bukan buat menyulitkan, tapi buat mengingatkan. Biar kita nggak jor-joran.”
Baca Juga : Ganjil-Genap BBM Berlaku, Antrean SPBU Tanete Lebih Terkendali
“Jadi ini semacam alarm ya?” tanya Om Haria.
“Betul. Alarm supaya kita sadar, energi itu bukan barang tak terbatas,” jawab Mas Bro.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
