Belajar Sejarah Biar Tak Kena Hukuman Zaman

Belajar Sejarah Biar Tak Kena Hukuman Zaman

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Sabtu malam kembali ramai di Warkop DK10.
Asap kopi hitam mengepul pelan, suara televisi bercampur bunyi sendok beradu gelas, sementara Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio sudah duduk di meja favorit mereka.

Di meja itu, seperti biasa, bukan cuma kopi yang diseduh. Pikiran juga ikut “direbus”.

Om Haria membuka obrolan sambil menggigit pisang goreng.

“Kalian masih ingat semboyan Jasmerah?”

Deng Kio langsung menjawab cepat.

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

Mas Bro mengangguk pelan.

“Itu bukan sekadar slogan lama. Itu peringatan.”

Om Haria lalu menyeruput kopi susunya sebelum lanjut bicara.

“Presiden Prabowo juga bilang, bangsa yang tidak belajar sejarah bisa dihukum sejarah.”

Deng Kio tertawa kecil.

“Berarti kalau salah terus diulang, itu bukan lupa… tapi hobi.”

Meja langsung pecah oleh tawa.

Mas Bro ikut tersenyum tipis.

“Padahal sejarah itu guru paling jujur. Dia kasih bukti, bukan janji.”

Suasana Warkop DK10 makin hangat.

Di sudut ruangan, kipas tua berputar malas. Sementara di meja mereka, ubi goreng tinggal separuh dan asbak mulai penuh puntung rokok.

“Belajar sejarah itu penting supaya kita tidak jatuh di lubang yang sama,” kata Om Haria.
“Yang suram jangan diulang, yang baik diteruskan.”

Deng Kio langsung menyahut.

“Masalahnya sekarang, banyak orang suka sejarah kalau cuma buat pidato.”

Mas Bro tertawa kecil.

“Begitu masuk praktik… sejarah malah dilupakan.”

Belum sempat Om Haria menjawab, tiba-tiba terdengar suara khas dari meja sebelah.

“Yang sering diingat itu tanggalnya… bukan pelajarannya!”

Ternyata Daeng La’lang ikut nimbrung sambil membawa kopi susu.

Semua langsung tertawa.

Daeng La’lang melanjutkan lagi.

“Padahal sejarah itu bukan pajangan di buku sekolah. Itu alarm.”

“Alarm buat apa?” tanya Deng Kio.

“Buat kasih tahu kalau bangsa ini pernah jatuh karena salah urus, salah arah, dan salah niat.”

Suasana mendadak agak tenang.

Mas Bro lalu berbicara pelan tapi tajam.

“Makanya tujuan membangun bangsa jangan berubah. Siapa presidennya boleh ganti, siapa pejabatnya boleh berganti… tapi cita-cita bangsa tidak boleh ikut berganti.”

Om Haria mengangguk mantap.

“Memajukan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan bangsa, dan keadilan sosial itu sudah jelas di UUD 1945.”

Deng Kio tersenyum tipis.

“Yang bahaya kalau kesejahteraan rakyat berubah jadi kesejahteraan kelompok.”

Mas Bro langsung menyambar.

“Atau keadilan yang katanya untuk semua… ternyata cuma untuk orang tertentu.”

Daeng La’lang kembali nyeletuk sambil tertawa kecil.

“Kalau sejarah sudah mulai dilupakan, biasanya akal sehat ikut pelan-pelan menghilang.”

Meja kembali hening beberapa detik.

Hanya suara hujan kecil di luar warkop terdengar samar.

Om Haria akhirnya menutup obrolan malam itu dengan nada santai.

“Belajar sejarah itu bukan untuk hidup di masa lalu.”

Mas Bro menambahkan cepat.

“Tapi supaya masa depan jangan rusak karena kesalahan yang sama.”

Deng Kio mengangkat cangkirnya.

Karena bangsa besar bukan bangsa yang paling kaya…

Daeng La’lang langsung menyambung.

Tapi bangsa yang mau belajar dari sejarahnya sendiri!

Semua tertawa.

Kopi habis.
Gorengan tandas.
Tapi pesan malam itu… masih terasa hangat. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG