“Belajar sejarah itu penting supaya kita tidak jatuh di lubang yang sama,” kata Om Haria.
“Yang suram jangan diulang, yang baik diteruskan.”
Deng Kio langsung menyahut.
Baca Juga : Prabowo Ingin Masukan Bahasa Prancis ke Kurikulum Sekolah, Kepala Bakom: Ini Kan Semakin Global
“Masalahnya sekarang, banyak orang suka sejarah kalau cuma buat pidato.”
Mas Bro tertawa kecil.
“Begitu masuk praktik… sejarah malah dilupakan.”
Baca Juga : Prabowo Komitmen Hentikan Kebocoran Kekayaan Negara, Rakyat Harus Sejahtera
Belum sempat Om Haria menjawab, tiba-tiba terdengar suara khas dari meja sebelah.
“Yang sering diingat itu tanggalnya… bukan pelajarannya!”
Ternyata Daeng La’lang ikut nimbrung sambil membawa kopi susu.
Baca Juga : Prabowo Tegas Basmi Backing Hijau-Coklat: Rakyat Diminta Rekam Video
Semua langsung tertawa.
Daeng La’lang melanjutkan lagi.
“Padahal sejarah itu bukan pajangan di buku sekolah. Itu alarm.”
Baca Juga : Hangat di Kremlin, Prabowo dan Putin Bahas Masa Depan Kerja Sama Bilateral
“Alarm buat apa?” tanya Deng Kio.
“Buat kasih tahu kalau bangsa ini pernah jatuh karena salah urus, salah arah, dan salah niat.”
Suasana mendadak agak tenang.
Mas Bro lalu berbicara pelan tapi tajam.
“Makanya tujuan membangun bangsa jangan berubah. Siapa presidennya boleh ganti, siapa pejabatnya boleh berganti… tapi cita-cita bangsa tidak boleh ikut berganti.”
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
