Bikin Heboh Itu Mudah, Jujur Itu yang Susah

Bikin Heboh Itu Mudah, Jujur Itu yang Susah

Yang Aneh Bukan Rakyat, Tapi Pejabat yang Kehilangan Malu

HARIAN.NEWS,MAKASSAR – Di negeri ini, keanehan seolah berubah definisi. Dulu, yang disebut aneh adalah mereka yang bertingkah di luar nalar: naik motor menghadap belakang, panjat tower demi cinta, atau sekadar cari sensasi murahan demi viral.

Kini? Standarnya bergeser.

Yang justru terasa “biasa” adalah ketika pejabat tersandung korupsi. Seolah itu bukan lagi penyimpangan, tapi rutinitas yang berulang.

Obrolan ringan  di Warkop DK10 antara Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio, 3 sahabat rasa saudara, malam ini mendadak berubah jadi refleksi getir. Asap kopi hitam mengepul, gorengan hangat jadi teman setia, dan tentu saja—obrolan yang kadang lebih panas dari kopi itu sendiri.

Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio duduk di sudut meja kayu yang sudah lebih tua dari janji kampanye.

“Sekarang ini, orang-orang kalau mau viral, harus bikin yang aneh-aneh,” buka Om Haria sambil meniup kopi.
“Naik motor mundur, panjat tower, sampai joget di tengah jalan. Yang penting dilihat orang.”

Deng Kio langsung nyengir.
“Betul itu, Om. Yang waras kalah sama yang nekat.”

Mas Bro yang dari tadi diam, tiba-tiba angkat suara.
“Kalau pejabat korupsi, itu termasuk aneh nggak?”

Suasana langsung berubah. Deng Kio mengernyit, Om Haria nyaris tersedak kopi.

“Bukan aneh lagi itu,” kata Om Haria sambil geleng kepala.
“Sudah keterlaluan. Dikasih amanah, malah jadi ladang cari untung.”

Mas Bro menimpali dengan nada santai tapi tajam.
“Jabatan itu titipan rakyat. Harusnya dipakai bantu rakyat, bukan malah bikin rakyat buntung.”

Deng Kio yang sedari tadi mendengarkan, kembali bertanya.
“Kalau begitu, yang aneh itu yang bagaimana?”

Mas Bro tersenyum tipis. “Yang lebih aneh itu, kebijakan yang jelas merugikan rakyat tapi tetap jalan terus. Sudah tahu salah, masih dipertahankan.”

Om Haria langsung menyahut. “Iya juga ya. Belum lagi pejabat yang sibuk pencitraan. Foto sana-sini, tapi hasilnya nggak kelihatan.”

“Pencitraan sih nggak salah,” balas Deng Kio. “Sekarang semua orang juga begitu.”

Mas Bro menggeleng pelan.
“Yang jadi masalah kalau pencitraannya penuh kepalsuan. Di depan rakyat manis, di belakang beda cerita. Itu bukan kerja, itu akting.”

Ketiganya sempat terdiam. Hanya suara sendok beradu gelas yang terdengar.

“Kasihan juga ya,” kata Om Haria.  “Yang kerja beneran jadi ikut kena cap gara-gara segelintir oknum.”

Mas Bro langsung nyeletuk,
“Itulah pepatah lama: nila setitik, rusak susu sebelanga.”

Deng Kio tertawa kecil.
“Berarti kita harus bikin yang aneh-aneh juga biar diperhatikan?”

Mas Bro langsung angkat tangan.
“Kalau cuma mau dilihat orang, gampang. Tapi kalau mau dipercaya, itu yang mahal.”

Om Haria mengangguk mantap.
“Sudahlah, kita jalani saja apa adanya. Nggak perlu aneh-aneh.”

Deng Kio menutup obrolan dengan senyum tipis.
“Yang penting bukan terlihat hebat, tapi benar-benar bermanfaat.”

Di titik ini, publik sebenarnya tidak bodoh.

Mereka melihat.
Mereka menilai.
Mereka mengingat.

Namun masalahnya, keanehan-keanehan itu terjadi terlalu sering, hingga perlahan dianggap biasa.

Dan ketika sesuatu yang salah menjadi biasa—itulah awal dari kerusakan yang lebih besar.

Obrolan Warkop DK10 malam ini pun berakhir sederhana.

Tanpa solusi besar. Tanpa jargon.

Hanya satu kesimpulan yang menggantung di udara: yang aneh bukan lagi perilaku manusia, tapi hilangnya rasa malu pada mereka yang diberi kuasa.

Kopi pun habis. Obrolan selesai. Tapi sindirannya… masih terasa. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG