Yang Aneh Bukan Rakyat, Tapi Pejabat yang Kehilangan Malu
HARIAN.NEWS,MAKASSAR – Di negeri ini, keanehan seolah berubah definisi. Dulu, yang disebut aneh adalah mereka yang bertingkah di luar nalar: naik motor menghadap belakang, panjat tower demi cinta, atau sekadar cari sensasi murahan demi viral.
Baca Juga : Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!
Kini? Standarnya bergeser.
Yang justru terasa “biasa” adalah ketika pejabat tersandung korupsi. Seolah itu bukan lagi penyimpangan, tapi rutinitas yang berulang.
Obrolan ringan di Warkop DK10 antara Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio, 3 sahabat rasa saudara, malam ini mendadak berubah jadi refleksi getir. Asap kopi hitam mengepul, gorengan hangat jadi teman setia, dan tentu saja—obrolan yang kadang lebih panas dari kopi itu sendiri.
Baca Juga : Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!
Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio duduk di sudut meja kayu yang sudah lebih tua dari janji kampanye.
“Sekarang ini, orang-orang kalau mau viral, harus bikin yang aneh-aneh,” buka Om Haria sambil meniup kopi.
“Naik motor mundur, panjat tower, sampai joget di tengah jalan. Yang penting dilihat orang.”
Deng Kio langsung nyengir.
“Betul itu, Om. Yang waras kalah sama yang nekat.”
Baca Juga : Ghost in the Cell: Film Horor Komedi Joko Anwar
Mas Bro yang dari tadi diam, tiba-tiba angkat suara.
“Kalau pejabat korupsi, itu termasuk aneh nggak?”
Suasana langsung berubah. Deng Kio mengernyit, Om Haria nyaris tersedak kopi.
“Bukan aneh lagi itu,” kata Om Haria sambil geleng kepala.
“Sudah keterlaluan. Dikasih amanah, malah jadi ladang cari untung.”
Baca Juga : WFH Boleh Santai, Layanan Jangan Ikut Rebahan!
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
