Mas Bro menimpali dengan nada santai tapi tajam.
“Jabatan itu titipan rakyat. Harusnya dipakai bantu rakyat, bukan malah bikin rakyat buntung.”
Deng Kio yang sedari tadi mendengarkan, kembali bertanya.
“Kalau begitu, yang aneh itu yang bagaimana?”
Baca Juga : Belajar Sejarah Biar Tak Kena Hukuman Zaman
Mas Bro tersenyum tipis. “Yang lebih aneh itu, kebijakan yang jelas merugikan rakyat tapi tetap jalan terus. Sudah tahu salah, masih dipertahankan.”
Om Haria langsung menyahut. “Iya juga ya. Belum lagi pejabat yang sibuk pencitraan. Foto sana-sini, tapi hasilnya nggak kelihatan.”
“Pencitraan sih nggak salah,” balas Deng Kio. “Sekarang semua orang juga begitu.”
Baca Juga : Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!
Mas Bro menggeleng pelan.
“Yang jadi masalah kalau pencitraannya penuh kepalsuan. Di depan rakyat manis, di belakang beda cerita. Itu bukan kerja, itu akting.”
Ketiganya sempat terdiam. Hanya suara sendok beradu gelas yang terdengar.
“Kasihan juga ya,” kata Om Haria. “Yang kerja beneran jadi ikut kena cap gara-gara segelintir oknum.”
Baca Juga : Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!
Mas Bro langsung nyeletuk,
“Itulah pepatah lama: nila setitik, rusak susu sebelanga.”
Deng Kio tertawa kecil.
“Berarti kita harus bikin yang aneh-aneh juga biar diperhatikan?”
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
