Cap Go Meh 2026: Sejarah, Tradisi, dan Festival Lampion

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Perayaan Tahun Baru Imlek belum benar-benar berakhir tanpa hadirnya festival Cap Go Meh yang selalu dinanti.

Festival yang menandai hari ke-15 setelah Imlek ini adalah puncak kemeriahan perayaan lunar di Indonesia dan dunia.

Pada tahun 2026, Cap Go Meh jatuh pada hari Selasa, 3 Maret. Meskipun bukan hari libur nasional, festival ini tetap menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan dan masyarakat.

Sejarah dan Makna Cap Go Meh

Cap Go Meh memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari Dinasti Han di Tiongkok, sekitar tahun 206 SM hingga 220 M.

Tradisi ini pada awalnya adalah bentuk penghormatan kepada Dewa Thai Yi, namun berkembang seiring waktu menjadi festival lampion yang meriah, dikenal juga sebagai Yuan Xiao Jie.

Festival ini menandakan berakhirnya perayaan Imlek dan menyambut harapan baru.

Makna Cap Go Meh dalam Budaya Tionghoa

Nama “Cap Go Meh” berasal dari dialek Hokkien, yang artinya adalah “malam ke-15”, sebagai penanda akhir dari perayaan Imlek. Festival ini mengandung simbolisme kebersamaan keluarga dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah.

Lampion yang menyala terang melambangkan pencerahan dan keberuntungan. Di Indonesia, perayaan ini juga menjadi momen untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan mendoakan keselamatan.

Festival Cap Go Meh di Indonesia: Keunikan dan Kemeriahan

Di Indonesia, Cap Go Meh dirayakan dengan beragam tradisi yang khas di setiap daerah. Kota-kota besar seperti Singkawang, Pontianak, Palembang, dan Bogor menyelenggarakan festival yang tidak hanya memperkenalkan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi wadah untuk menjalin kerukunan antar-etnis.

Atraksi barongsai dan tarian naga selalu menjadi bagian utama, selain itu ada pula pertunjukan Tatung di Kalimantan, di mana individu yang terpilih melakukan ritual kebal senjata tajam.

Tradisi Tatung ini menggabungkan kepercayaan Tionghoa dengan budaya lokal, memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung.

Kuliner Tradisional Cap Go Meh: Lontong dan Kue Keranjang

Tidak lengkap rasanya merayakan Cap Go Meh tanpa mencicipi hidangan khas, seperti lontong Cap Go Meh. Lontong yang panjang melambangkan umur panjang, sedangkan kuah kuning kunyitnya melambangkan kemakmuran.

Makanan-makanan ini memiliki makna filosofis yang mendalam dan merupakan bagian dari tradisi yang terus dijaga.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tahun 2023 yang meriah ||arloy1968@pinterest

Cap Go Meh Singkawang: Pusat Perayaan Tionghoa di Asia Tenggara

Festival Cap Go Meh Singkawang menjadi salah satu yang paling meriah dan besar di Asia Tenggara. Di sini, tradisi Tatung menarik perhatian, di mana peserta yang dimasuki oleh roh leluhur melakukan atraksi kebal senjata tajam sebagai simbol pembersihan roh jahat.

Selain itu, Singkawang dikenal dengan pawai lampion yang megah dan penuh warna.

Mengapa Cap Go Meh Masih Relevan di Era Modern?

Meskipun sudah berkembang sejak ribuan tahun lalu, Cap Go Meh tetap relevan di era modern. Festival ini mengedepankan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan kebersamaan.

Di beberapa kota seperti Bogor dan Yogyakarta, penyelenggaraan festival bahkan disesuaikan waktunya untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa.

Selain itu, festival ini juga mendorong sektor pariwisata dan ekonomi lokal melalui bazar kuliner dan pameran seni budaya.

Cap Go Meh sebagai Simbol Keharmonisan Sosial

Cap Go Meh 2026 bukan hanya sekadar perayaan penutup Tahun Baru Imlek, tetapi juga simbol dari kebersamaan lintas budaya dan etnis di Indonesia. Ini adalah peringatan untuk terus menjaga keseimbangan alam, mensyukuri kehidupan, dan merawat persaudaraan.

Tradisi ini mengajarkan kita untuk tetap memelihara warisan budaya dan terus merayakan keragaman yang memperkaya bangsa.***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG