Haji Jalur Cepat vs Jalur Sabar, Pilih Mana?

War Tiket Haji Bikin Kepala Berasap
HARIAN.NEWS,MAKASSAR – Rabu malam di Warkop DK10, suasana tak jauh beda. Kopi hitam masih jadi primadona, gorengan makin tipis, dan obrolan… seperti biasa, makin ke sini makin panas.
Om Haria membuka percakapan sambil menatap layar ponsel.
“Ini baru lagi… ada istilah war tiket haji. Ibadah kok pakai rebutan?”
Deng Kio langsung tertawa.
“Jangan-jangan nanti pakai countdown, Om. Siapa cepat dia berangkat.”
Mas Bro yang dari tadi menyimak, ikut nimbrung.
“Kalau konsepnya begitu, berarti ada dua jalur. Jalur sabar sama jalur ‘sultan’.”
Om Haria mengangguk pelan.
“Yang satu nunggu bertahun-tahun, yang satu tinggal bayar lunas, langsung jalan.”
Deng Kio menimpali,
“Berarti yang war tiket itu harus siap dana besar?”
Mas Bro langsung menjelaskan dengan gaya santainya.
“Logikanya begitu. Tanpa subsidi. Semua biaya real. Mau mahal atau lebih mahal, ya ditanggung sendiri.”
Belum sempat obrolan lanjut, tiba-tiba dari meja sebelah terdengar suara khas.
“Eh, ini haji apa flash sale online?” celetuk Daeng La’lang sambil nyeruput kopi.
Ketiganya langsung menoleh, lalu tertawa.
“Masuk juga itu,” kata Om Haria.
“Kalau pakai sistem rebutan, rasanya beda.”
Mas Bro menghela napas.
“Padahal haji itu ibadah. Harusnya soal kesiapan hati, bukan kecepatan jari.”
Deng Kio mengangguk.
“Tapi di sisi lain, antreannya memang panjang sekali.”
“Betul,” kata Om Haria.
“Ada yang nunggu belasan sampai puluhan tahun. Tidak semua kebagian cepat.”
Mas Bro mencoba menengahi.
“Makanya muncul ide jalur cepat. Tapi konsekuensinya jelas—biaya lebih mahal.”
Daeng La’lang kembali nyeletuk,
“Kalau begitu, yang cepat berangkat yang tebal dompetnya. Yang sabar… ya tetap sabar.”
Suasana mendadak agak hening.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam.
Deng Kio kemudian berkata pelan,
“Bukankah akan lebih adil kalau tambahan kuota dibagi ke semua yang antre?”
Mas Bro mengangguk.
“Itu juga masuk akal. Supaya semua dapat kesempatan, bukan cuma yang mampu bayar lebih.”
Om Haria menatap gelas kopinya yang hampir habis.
“Kadang kita lupa… ibadah itu bukan soal siapa duluan, tapi siapa yang benar-benar siap.”
Daeng La’lang tersenyum tipis.
“Kalau cuma cepat, pesawat juga cepat. Tapi belum tentu semua sampai tujuan yang sama.”
Ketiganya terdiam.
Obrolan yang awalnya ringan berubah jadi renungan.
Di tengah hiruk pikuk “war”, ada satu hal yang tak boleh hilang:
makna dari perjalanan itu sendiri.
Mas Bro akhirnya menutup pembicaraan,
“Kalau harus memilih… antara cepat dan tepat, lebih baik tepat.”
Om Haria mengangguk.
Deng Kio tersenyum.
Dan Daeng La’lang… sudah sibuk pesan kopi lagi. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG