War Tiket Haji Bikin Kepala Berasap
HARIAN.NEWS,MAKASSAR – Rabu malam di Warkop DK10, suasana tak jauh beda. Kopi hitam masih jadi primadona, gorengan makin tipis, dan obrolan… seperti biasa, makin ke sini makin panas.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Om Haria membuka percakapan sambil menatap layar ponsel.
“Ini baru lagi… ada istilah war tiket haji. Ibadah kok pakai rebutan?”
Deng Kio langsung tertawa.
“Jangan-jangan nanti pakai countdown, Om. Siapa cepat dia berangkat.”
Mas Bro yang dari tadi menyimak, ikut nimbrung.
“Kalau konsepnya begitu, berarti ada dua jalur. Jalur sabar sama jalur ‘sultan’.”
Baca Juga : Dari 48 ke 26 Tahun: Reformasi Antrean Haji Indonesia
Om Haria mengangguk pelan.
“Yang satu nunggu bertahun-tahun, yang satu tinggal bayar lunas, langsung jalan.”
Deng Kio menimpali,
“Berarti yang war tiket itu harus siap dana besar?”
Mas Bro langsung menjelaskan dengan gaya santainya.
“Logikanya begitu. Tanpa subsidi. Semua biaya real. Mau mahal atau lebih mahal, ya ditanggung sendiri.”
Baca Juga : Kontroversi War Tiket Haji Berakhir, Menhaj Mengaku Salah
Belum sempat obrolan lanjut, tiba-tiba dari meja sebelah terdengar suara khas.
“Eh, ini haji apa flash sale online?” celetuk Daeng La’lang sambil nyeruput kopi.
Ketiganya langsung menoleh, lalu tertawa.
Baca Juga : WFH Boleh Santai, Layanan Jangan Ikut Rebahan!
“Masuk juga itu,” kata Om Haria.
“Kalau pakai sistem rebutan, rasanya beda.”
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

