Mas Bro menghela napas.
“Padahal haji itu ibadah. Harusnya soal kesiapan hati, bukan kecepatan jari.”
Deng Kio mengangguk.
“Tapi di sisi lain, antreannya memang panjang sekali.”
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
“Betul,” kata Om Haria.
“Ada yang nunggu belasan sampai puluhan tahun. Tidak semua kebagian cepat.”
Mas Bro mencoba menengahi.
“Makanya muncul ide jalur cepat. Tapi konsekuensinya jelas—biaya lebih mahal.”
Daeng La’lang kembali nyeletuk,
“Kalau begitu, yang cepat berangkat yang tebal dompetnya. Yang sabar… ya tetap sabar.”
Baca Juga : Dari 48 ke 26 Tahun: Reformasi Antrean Haji Indonesia
Suasana mendadak agak hening.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam.
Deng Kio kemudian berkata pelan,
“Bukankah akan lebih adil kalau tambahan kuota dibagi ke semua yang antre?”
Baca Juga : Kontroversi War Tiket Haji Berakhir, Menhaj Mengaku Salah
Mas Bro mengangguk.
“Itu juga masuk akal. Supaya semua dapat kesempatan, bukan cuma yang mampu bayar lebih.”
Om Haria menatap gelas kopinya yang hampir habis.
“Kadang kita lupa… ibadah itu bukan soal siapa duluan, tapi siapa yang benar-benar siap.”
Daeng La’lang tersenyum tipis.
“Kalau cuma cepat, pesawat juga cepat. Tapi belum tentu semua sampai tujuan yang sama.”
Baca Juga : WFH Boleh Santai, Layanan Jangan Ikut Rebahan!
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

