HARIAN.NEWS,GOWA – Hamparan hijau pada ratusan hektar areal persawahan yang membentang luas di dua Kabupaten masing masing Gowa dan Takalar memang menyejukkan.
Pesona ini selain memberikan nilai kemanjaan bagi mata warga yang memandang juga melahirkan harapan akan musim panen padi akan segera tiba.
Baca Juga : Krisis Air Bersih di Maiwa, Koramil Turun Bantu Warga
Namun, di balik pesona hijau itu, ribuan petani yang mendiami dua kabupaten bersaudara tersebut kini dilanda kekhawatiran. Kekeringan menjadi penyebabnya.
Kaum tani tersebut kini terus berjuang agar tanaman padi yang sudah mereka tanam dengan menghabiskan tenaga dan uang hasilnya bisa dipetik.
Tanaman padi itu sudah berumur dua bulan, kini dirundung masalah, kebutuhan air dari jalur irigasi dari dua bendungan yakni Kampili dan Bili – bili kini mandeg, stok air makin berkurang.
Baca Juga : Waspada El Nino Godzilla, Bupati Bantaeng: Ini Bukan Musim Kemarau Biasa
Kini, ribuan petani tersebut berupaya maksimal mendapatkan air untuk stok kebutuhan padinya dengan menggunakan sumur bor, mesin pompa menjadi pilihan utama mereka.
Jamaluddin Daeng Siama, Ketua Kelompok Tani Pa’sereanta Kelurahan Kalase’rena Kecamatan Bontonompo mengaku kelabakan disebabkan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin pompa sering langka di lapangan,
” Kebutuhan air sangat mendesak namun Gas Elpiji 3 Kg sangat susah didapat sebagai bahan bakar untuk operasi mesin pompa, sisi lain kami dilarang membeli Fertalife di BBM menggunakan ceregen, akibatnya panen musim ini terancam kurang maksimal namun saya yakin kemungkinan sebahagian area persawahan terancam gagal panen,” ungkap Jamaluddin Dg Siama siang tadi.
Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
