Persoalan inilah yang seharusnya menjadi perhatian lebih besar bagi para penentu kebijakan. Ancaman komunikasi digital bukan semata-mata berita palsu. Ancaman yang lebih dalam adalah ketika batas antara fakta, opini, tafsir hukum, dan persepsi menjadi kabur.
AI mempercepat persoalan tersebut karena mampu menghasilkan, mengulang, memodifikasi, dan menyebarkan narasi dalam skala yang jauh lebih besar.
Baca Juga : Pajak Dibayar, Rakyat Menunggu Jawaban
Dalam kondisi seperti itu, perang informasi tidak selalu harus membuat masyarakat percaya kepada satu kebohongan, cukup dengan membuat masyarakat kehilangan kemampuan membedakan mana fakta, mana interpretasi, dan mana konstruksi yang sengaja diperkuat.
Karena itu, keamanan masa depan tidak cukup dibangun dengan teknologi pertahanan siber. Kita membutuhkan ketahanan kognitif, kemampuan masyarakat dan institusi untuk berhenti sejenak di tengah derasnya informasi, memeriksa sumber, memahami konteks, membedakan fakta dari opini, dan tidak menjadikan pengulangan sebagai ukuran kebenaran.
Bagi pembuat kebijakan, tantangannya bahkan lebih besar. Keputusan strategis tidak boleh lahir dari apa yang paling viral, paling keras, atau paling banyak diulang. Keputusan harus lahir dari bukti yang dapat diverifikasi, proses yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kemampuan menjaga jarak dari tekanan ekosistem informasi.
Baca Juga : Pers, Penegak Hukum dan Kepercayaan Publik
Kasus apa pun yang muncul di ruang publik, termasuk polemik ijazah Wapres, semestinya menjadi pelajaran tentang masa depan demokrasi dan keamanan informasi kita. Yang dipertaruhkan kemampuan bangsa mempertahankan nalar ketika teknologi semakin mahir membentuk persepsi. Sebab di era algoritma dan AI,
“kebenaran tidak otomatis menjadi benar karena diulang, dan ketidakbenaran tidak otomatis menjadi benar karena dipercaya banyak orang”. Justru ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memverifikasinya, mempertahankan kejernihan berpikir menjadi bentuk pertahanan yang paling mendasar. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
