Mengapa Daging Sapi Lebih Populer? Ini Alasan Kambing Sering Dihindari

Mengapa Daging Sapi Lebih Populer? Ini Alasan Kambing Sering Dihindari

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Setiap Iduladha, daging kambing dan sapi sama-sama melimpah. Tapi pertanyaannya: mengapa daging sapi selalu lebih unggul di hati masyarakat?

Mulai dari bakso, rendang, semur, hingga burger—daging sapi hadir hampir setiap hari di meja makan. Sementara daging kambing? Ia baru ramai dicari saat momen kurban tiba, atau saat ada acara bakar sate di akhir pekan.

Bukan tanpa alasan. Ada dua faktor utama yang membuat masyarakat lebih memilih daging sapi: aroma khas (prengus) dan stigma tidak sehat.

Tapi benarkah anggapan itu? Mari kita bedah fakta demi fakta.

Aroma Prengus Sebenarnya Bisa Dihilangkan

Satu alasan terbesar mengapa orang menghindari daging kambing adalah baunya yang terlalu kuat. Aroma prengus ini sering membuat selera langsung turun.

Tapi tunggu dulu.

Menurut para ahli kuliner, aroma prengus berasal dari senyawa asam lemak rantai pendek pada lemak kambing. Dan kabar baiknya, aroma ini bisa dihilangkan dengan teknik pengolahan yang tepat.

Beberapa bahan alami yang terbukti ampuh menghilangkan bau prengus:
– Jahe – diremas dan dicampurkan saat merendam daging
– Serai – memberikan aroma segar sekaligus menetralisir bau
– Jeruk nipis – asamnya membantu mengurai senyawa penyebab bau
– Ketumbar – menghadirkan aroma hangat yang menyamarkan prengus
– Daun pepaya – juga bisa melunakkan tekstur daging

Masalahnya, tidak semua orang tahu teknik ini. Akibatnya, daging kambing mendapat stigma sebagai daging yang “ribet” dan “sulit diolah”.

Mitos Besar: Daging Kambing Menyebabkan Kolesterol Tinggi

Inilah mitos paling meluas yang perlu diluruskan.

Banyak orang percaya bahwa memakan daging kambing bisa memicu lonjakan kolesterol dan tekanan darah. Bahkan tak sedikit yang menganggap daging kambing lebih berbahaya dari daging sapi.

Tapi data berkata lain.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dikutip Kompas.com, kandungan kolesterol dalam 100 gram daging kambing justru lebih rendah dibandingkan daging sapi:

Jenis Daging Kadar Kolesterol (per 100 gram)
Daging Kambing 75 mg
Daging Sapi 90 mg

Selain itu, Alodokter juga menyebutkan bahwa kandungan lemak total pada daging kambing relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi.

Artinya? Daging kambing sebenarnya lebih ramah untuk kadar kolesterol Anda, asalkan diolah dengan benar.

Lalu Kenapa Daging Kambing Dianggap Tidak Sehat?

Inilah ironisnya. Meskipu kadar kolesterolnya lebih rendah, daging kambing sering diolah dengan cara yang justru meningkatkan kadar lemak dan kalori.

Contohnya:
– Gulai kambing – penuh santan kental dan minyak
– Tongseng kambing – menggunakan banyak minyak goreng
– Sate kambing – sering dicampur lemak berlebih

Bukan daging kambing yang tidak sehat, tetapi cara memasaknya yang membuatnya kurang baik untuk kesehatan.

Sebaliknya, daging sapi yang diolah dengan santan atau minyak berlebih (seperti rendang) juga sama-sama bisa meningkatkan kolesterol. Jadi, masalahnya bukan pada jenis dagingnya, tapi pada metode pengolahannya.

Daging Sapi vs Daging Kambing, Siapa Pemenang?

Sejatinya, tidak ada jawaban mutlak mana yang lebih baik. Semua kembali pada selera dan kebutuhan masing-masing.

Daging sapi unggul dalam:
– Aroma netral dan familiar
– Fleksibilitas olahan (dari steak hingga bakso)
– Tekstur yang lebih lunak (tergantung bagian)

Daging kambing unggul dalam:
– Kandungan kolesterol lebih rendah
– Lemak total lebih sedikit
– Kaya zat besi dan protein

Pesan penting untuk pembaca:
“Jangan takut pada daging kambing. Takutlah pada cara memasak yang tidak sehat. Konsumsilah secukupnya, olahlah dengan rempah dan teknik yang tepat, maka daging kambing bisa menjadi hidangan lezat sekaligus bergizi.”

Tips Singkat Mengolah Daging Kambing Anti Prengus

1. Rendam dengan air jeruk nipis dan jahe selama 30 menit
2. Buang lemak berlebih pada bagian luar daging
3. Rebus sebentar dengan serai dan daun salam, buang air rebusan pertama
4. Gunakan rempah segar (ketumbar, jinten, lada) untuk menetralisir aroma
5. Hindari terlalu banyak santan dan minyak saat memasak. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG