HARIAN.NEWS, JAKARTA – Setiap Iduladha, daging kambing dan sapi sama-sama melimpah. Tapi pertanyaannya: mengapa daging sapi selalu lebih unggul di hati masyarakat?
Mulai dari bakso, rendang, semur, hingga burger—daging sapi hadir hampir setiap hari di meja makan. Sementara daging kambing? Ia baru ramai dicari saat momen kurban tiba, atau saat ada acara bakar sate di akhir pekan.
Bukan tanpa alasan. Ada dua faktor utama yang membuat masyarakat lebih memilih daging sapi: aroma khas (prengus) dan stigma tidak sehat.
Baca Juga : 5 Tips Ampuh Turunkan Kolesterol Akibat Konsumsi Daging Berlebihan saat Lebaran
Tapi benarkah anggapan itu? Mari kita bedah fakta demi fakta.
Aroma Prengus Sebenarnya Bisa Dihilangkan
Satu alasan terbesar mengapa orang menghindari daging kambing adalah baunya yang terlalu kuat. Aroma prengus ini sering membuat selera langsung turun.
Tapi tunggu dulu.
Menurut para ahli kuliner, aroma prengus berasal dari senyawa asam lemak rantai pendek pada lemak kambing. Dan kabar baiknya, aroma ini bisa dihilangkan dengan teknik pengolahan yang tepat.
Beberapa bahan alami yang terbukti ampuh menghilangkan bau prengus:
– Jahe – diremas dan dicampurkan saat merendam daging
– Serai – memberikan aroma segar sekaligus menetralisir bau
– Jeruk nipis – asamnya membantu mengurai senyawa penyebab bau
– Ketumbar – menghadirkan aroma hangat yang menyamarkan prengus
– Daun pepaya – juga bisa melunakkan tekstur daging
Masalahnya, tidak semua orang tahu teknik ini. Akibatnya, daging kambing mendapat stigma sebagai daging yang “ribet” dan “sulit diolah”.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
