Logo Harian.news

Musim Kemarau di Sulsel Dimulai Mei, Puncaknya Agustus-September

Editor : Rasdianah Selasa, 25 Maret 2025 19:46
Forecaster Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Chaterina Restu Malino, Foto: dok HN/Sinta
Forecaster Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Chaterina Restu Malino, Foto: dok HN/Sinta

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Sulawesi Selatan akan dimulai pada Mei hingga Agustus 2025, dengan puncaknya terjadi pada Agustus hingga September.

Musim ini berpotensi menyebabkan kekeringan, krisis air bersih, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga : HUT Dekranas dan HKG PKK 2026 Digelar di Makassar, Sulsel Targetkan Dongkrak Ekonomi Daerah

“Indeks ENSO pada dasarian pertama Maret 2025 tercatat sebesar 0,30, yang menunjukkan kondisi netral. BMKG memprediksi bahwa kondisi netral ini akan bertahan hingga September,” ujar Forecaster Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Chaterina Restu Malino, dalam meeting zoom desiminasi prediksi musim kemarau Sulsel 2025.

Kondisi netral ini berarti tidak ada pengaruh signifikan dari El Niño atau La Niña terhadap pola cuaca di Indonesia.

Chaterina kemudian menjelaskan bahwa angin timur yang menjadi salah satu penanda utama musim kemarauakan mulai muncul di wilayah selatan Indonesia pada April, termasuk di Sulawesi Selatan yang diperkirakan akan merasakan dampaknya mulai Mei.

Baca Juga : Dugaan Penyalahgunaan Narkoba dalam Lapas Makassar Hingga Insiden Penikaman Napi

“Awal musim kemarau di Sulawesi Selatan diprediksi bervariasi, dengan wilayah pesisir barat seperti Makassar, Takalar, dan Jeneponto mulai mengalami kemarau pada Mei. Kemudian, sebagian Gowa, Maros, Pangkep, dan Barru juga akan mengalami kondisi serupa,” jelasnya.

Pada Juni, kemarau diperkirakan meluas ke Kepulauan Selayar, sebagian besar Maros, Pinrang, Toraja Utara, dan Kota Palopo. Sementara itu, wilayah Enrekang, sebagian besar Tana Toraja, Luwu, Sidrap, Wajo, Soppeng, serta sebagian kecil Bone, Bantaeng, dan Bulukumba akan mengalami musim kemarau pada Juli.

“Agustus menjadi bulan terakhir bagi beberapa daerah yang baru memasuki awal musim kemarau, seperti Sinjai, sebagian Bone, Wajo, Sidrap, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur,” tambah Chaterina.

Baca Juga : Ratusan Pelajar Unjuk Kemampuan di Poltekbos Future Skills Expo 2026

Sebanyak 42% wilayah Sulawesi Selatan diprediksi mengalami musim kemarau sesuai dengan pola normalnya. Namun, beberapa daerah seperti Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Toraja Utara akan mengalami musim kemarau lebih awal dibanding biasanya.

“Sebaliknya, ada daerah yang justru mengalami musim kemarau lebih lambat dari normalnya, seperti Selayar, Jeneponto, sebagian Bulukumba dan Sinjai, serta beberapa bagian Enrekang dan Tana Toraja,” ujarnya.

BMKG memprediksi bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September, dengan 79% wilayah Sulawesi Selatan mengalami kondisi kering ekstrem pada periode ini. Namun, beberapa daerah akan lebih cepat atau lebih lambat mencapai puncaknya.

Baca Juga : Merek Baru Bermunculan, Kalla Toyota Tetap Merajai Pasar Otomotif Sulsel

“Beberapa wilayah seperti Palopo, Toraja Utara, dan Pinrang akan lebih dahulu mengalami puncak musim kemarau pada Juli, sedangkan daerah seperti Selayar, sebagian Wajo, Sidrap, Luwu, dan Luwu Timur akan mengalami puncaknya pada Oktober,” tutup Chaterina.

PENULIS: NURSINTA

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda