Tidak Mungkin Ada Asap Kalau Tidak Ada Api

Sebuah Kritik Terhadap Pepatah Lama
HARIAN.NEWS,GOWA – Ada satu kalimat yang tampak sederhana, tetapi memiliki daya lumpuh yang luar biasa dalam percakapan publik, yakni “ tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api ” Kalimat ini terdengar seperti kebijaksanaan tua yang diwariskan turun-temurun, seperti petuah yang lahir dari pengalaman panjang manusia dalam membaca tanda-tanda alam.
Namun justru karena kesederhanaannya itulah, ia sering diterima begitu saja tanpa perlawanan. Ia tidak lagi diuji, tidak lagi dipertanyakan, melainkan langsung dipercaya, seolah ia adalah hukum alam yang tak bisa dibantah lagi. Padahal, dalam dunia yang telah berubah sedemikian rupa, dunia yang tidak lagi hanya dihuni oleh fakta, tetapi juga oleh persepsi, rekayasa, dan distribusi informasi yang tak terkendali, kalimat ini patut dicurigai. Ia tidak lagi sekedar pepatah. Ia telah menjelma menjadi alat.
Rumor atau gossip, dalam banyak hal, adalah “asap” yang paling mudah diciptakan. Ia tidak membutuhkan bahan bakar yang nyata. Ia cukup membutuhkan satu percikan kecil, entah berupa dugaan, potongan informasi, atau bahkan sekedar imajinasi yang dikemas seolah-olah fakta.
Dari sana, ia akan menemukan jalannya sendiri. Ia akan berpindah dari satu kepala ke kepala lain, dari satu grup percakapan ke grup berikutnya, dari satu media ke media lainnya. Ia membesar bukan karena kebenaran yang dikandungnya, tetapi karena resonansi emosional yang ia bangun.
Dan di tengah hiruk pikuk itu, tiba-tiba muncul satu kalimat penutup: “ tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api ”
Seketika, perdebatan yang sebelumnya terbuka menjadi tertutup. Bantahan yang semula rasional menjadi kehilangan daya.
Orang-orang yang mencoba menjelaskan fakta tiba-tiba seperti berbicara di ruang hampa. Kalimat itu tidak membuktikan apa-apa, tetapi berhasil menciptakan kesan bahwa sesuatu telah terbukti.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak bukan untuk menerima kalimat itu, tetapi untuk membedahnya.
Secara logika, pepatah “asap dan api” mengandung asumsi kausalitas. Bahwa setiap gejala pasti memiliki sebab yang sepadan, dan dalam konteks ini, bahwa rumor (asap) pasti berasal dari fakta (api).
Namun, dalam kajian komunikasi modern, asumsi ini terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas realitas.
Seorang pemikir komunikasi, Walter Lippmann, pernah menyatakan bahwa manusia tidak merespons dunia secara langsung, melainkan melalui “gambar-gambar di dalam kepala mereka.” Artinya, apa yang kita anggap sebagai “asap” sering kali bukanlah refleksi dari kenyataan, melainkan hasil konstruksi persepsi kita sendiri. Kita tidak melihat api. Kita hanya melihat apa yang kita percayai sebagai api.
Dalam konteks ini, rumor bukanlah asap yang berasal dari api, melainkan kabut yang dibentuk oleh persepsi kolektif. Ia bisa muncul dari ketidakpastian, dari ketakutan, dari bias, bahkan dari kepentingan tertentu. Ia tidak selalu membutuhkan fakta sebagai fondasi. Ia hanya membutuhkan ruang kosong dalam pengetahuan publik dan ruang kosong itu hampir selalu ada.
Lebih jauh, teori framing dalam komunikasi menjelaskan bahwa cara sebuah isu dikemas akan sangat menentukan bagaimana ia dipahami. Ketika sebuah rumor dibingkai sebagai sesuatu yang “pantas dicurigai,” maka publik akan cenderung mencari pembenaran atas kecurigaan tersebut.
Kalimat “tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api” adalah bentuk framing yang sangat kuat. Ia memaksa kita melihat rumor sebagai bukti awal, bukan sebagai sesuatu yang harus diuji. Padahal, dalam banyak kasus, “asap” justru sengaja diciptakan untuk memberi kesan adanya “api.”
Dalam dunia politik, misalnya, strategi ini dikenal sebagai smear campaign menyebarkan isu atau dugaan untuk merusak reputasi seseorang tanpa perlu membuktikannya. Yang penting bukanlah kebenaran, melainkan kesan. Dan kesan itu cukup dibangun dengan “asap.”
Di era digital, fenomena ini semakin diperkuat oleh apa yang disebut sebagai illusory truth effect, yakni sebuah kecenderungan psikologis di mana informasi yang diulang-ulang akan terasa lebih benar, terlepas dari validitasnya.
Ketika sebuah rumor terus muncul di berbagai platform, ia mulai terasa akrab. Dan sesuatu yang akrab sering kali dianggap benar.
Maka, “asap” dalam konteks ini bukan lagi indikator keberadaan “api” melainkan hasil dari pengulangan yang sistematis. Ia adalah produk distribusi, bukan refleksi realitas.
Tidak berhenti di situ, teori agenda-setting juga memberi kita pemahaman bahwa media tidak selalu memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan, melainkan hal-hal yang seharusnya memenuhi ruang pikiran kita. Ketika sebuah isu diangkat terus-menerus, ia menjadi penting dalam persepsi publik. Dan ketika sesuatu dianggap penting, ia mulai diasosiasikan dengan kebenaran.
Dengan kata lain, “asap” bisa diciptakan dengan cara membuat sesuatu terus terlihat. Tidak perlu ada api. Cukup ada sorotan.
Namun, mungkin yang paling berbahaya dari kalimat “ tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api ” adalah fungsinya sebagai penutup dialog. Ia bukan argumen yang membuka ruang diskusi, melainkan pernyataan yang menghentikannya. Ia tidak mengundang pembuktian, tetapi menolak keraguan.
Dalam filsafat bahasa, pernyataan seperti ini bisa dianggap sebagai bentuk performative utterance , yakni ucapan yang tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga melakukan sesuatu.
Dalam hal ini, ia melakukan penghentian. Ia menciptakan kesan finalitas. Ia membuat orang merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Padahal, justru di situlah perdebatan seharusnya dimulai.
Di zaman ini, batas antara fakta dan opini semakin kabur. Informasi tidak lagi mengalir secara vertikal dari sumber yang jelas, tetapi menyebar secara horizontal melalui jaringan yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk meragukan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan untuk memahami.
Menerima begitu saja bahwa setiap “asap” pasti berasal dari “api” adalah bentuk kemalasan intelektual. Ia mengabaikan kemungkinan adanya manipulasi, distorsi, atau bahkan kebohongan yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan.
Lebih dari itu, ia juga berpotensi menciptakan ketidakadilan. Seseorang bisa dihakimi bukan karena apa yang ia lakukan, tetapi karena apa yang dikatakan tentang dirinya. Reputasi bisa runtuh bukan karena kesalahan nyata, tetapi karena “asap” yang terus mengepul tanpa pernah diuji asal-usulnya.
Di sinilah kita perlu mengembalikan keberanian untuk bertanya. Apakah benar itu asap?
Apakah benar ada api?
Ataukah kita sedang menyaksikan kabut yang sengaja ditiupkan ke arah kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia membuka kembali ruang berpikir yang sempat ditutup oleh kalimat-kalimat yang terdengar pasti.
Kebenaran tidak pernah takut diuji. Yang takut diuji adalah asumsi yang menyamar sebagai kebenaran.
Maka, alih-alih menjadikan pepatah “tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api” sebagai penutup, mungkin sudah saatnya kita menjadikannya sebagai awal dari pertanyaan. Bukan untuk membenarkan rumor, tetapi untuk mengujinya. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami.
Karena dalam dunia yang penuh dengan “asap,” tugas kita bukan sekadar mencari “api,” tetapi memastikan bahwa kita tidak sedang tertipu oleh bayangan yang kita kira nyata.
Dan mungkin, pada gilirannya nanti, kita akan sampai pada satu kesadaran yang lebih jujur: bahwa tidak semua asap adalah tanda, dan tidak semua tanda adalah kebenaran.
Makassar, 3 April 2026 ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : MUSTAMIN RAGA (PENULIS BUKU MONEY POLITICS dan DEMOKRASI ELEKTORAL )