Dalam filsafat bahasa, pernyataan seperti ini bisa dianggap sebagai bentuk performative utterance , yakni ucapan yang tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga melakukan sesuatu.
Dalam hal ini, ia melakukan penghentian. Ia menciptakan kesan finalitas. Ia membuat orang merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Padahal, justru di situlah perdebatan seharusnya dimulai.
Di zaman ini, batas antara fakta dan opini semakin kabur. Informasi tidak lagi mengalir secara vertikal dari sumber yang jelas, tetapi menyebar secara horizontal melalui jaringan yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk meragukan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan untuk memahami.
Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG
Menerima begitu saja bahwa setiap “asap” pasti berasal dari “api” adalah bentuk kemalasan intelektual. Ia mengabaikan kemungkinan adanya manipulasi, distorsi, atau bahkan kebohongan yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan.
Lebih dari itu, ia juga berpotensi menciptakan ketidakadilan. Seseorang bisa dihakimi bukan karena apa yang ia lakukan, tetapi karena apa yang dikatakan tentang dirinya. Reputasi bisa runtuh bukan karena kesalahan nyata, tetapi karena “asap” yang terus mengepul tanpa pernah diuji asal-usulnya.
Di sinilah kita perlu mengembalikan keberanian untuk bertanya. Apakah benar itu asap?
Apakah benar ada api?
Ataukah kita sedang menyaksikan kabut yang sengaja ditiupkan ke arah kita?
Baca Juga : EL Nino Menyapa ? Sudah Siapkah Indonesia
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia membuka kembali ruang berpikir yang sempat ditutup oleh kalimat-kalimat yang terdengar pasti.
Kebenaran tidak pernah takut diuji. Yang takut diuji adalah asumsi yang menyamar sebagai kebenaran.
Maka, alih-alih menjadikan pepatah “tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api” sebagai penutup, mungkin sudah saatnya kita menjadikannya sebagai awal dari pertanyaan. Bukan untuk membenarkan rumor, tetapi untuk mengujinya. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami.
Karena dalam dunia yang penuh dengan “asap,” tugas kita bukan sekadar mencari “api,” tetapi memastikan bahwa kita tidak sedang tertipu oleh bayangan yang kita kira nyata.
Baca Juga : Pesta Babi, Ruang Sipil, dan Cara Baru Kekuasaan Membentuk Kesadaran
Dan mungkin, pada gilirannya nanti, kita akan sampai pada satu kesadaran yang lebih jujur: bahwa tidak semua asap adalah tanda, dan tidak semua tanda adalah kebenaran.
Makassar, 3 April 2026 ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
