Sebuah Kritik Terhadap Pepatah Lama
HARIAN.NEWS,GOWA – Ada satu kalimat yang tampak sederhana, tetapi memiliki daya lumpuh yang luar biasa dalam percakapan publik, yakni “ tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api ” Kalimat ini terdengar seperti kebijaksanaan tua yang diwariskan turun-temurun, seperti petuah yang lahir dari pengalaman panjang manusia dalam membaca tanda-tanda alam.
Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG
Namun justru karena kesederhanaannya itulah, ia sering diterima begitu saja tanpa perlawanan. Ia tidak lagi diuji, tidak lagi dipertanyakan, melainkan langsung dipercaya, seolah ia adalah hukum alam yang tak bisa dibantah lagi. Padahal, dalam dunia yang telah berubah sedemikian rupa, dunia yang tidak lagi hanya dihuni oleh fakta, tetapi juga oleh persepsi, rekayasa, dan distribusi informasi yang tak terkendali, kalimat ini patut dicurigai. Ia tidak lagi sekedar pepatah. Ia telah menjelma menjadi alat.
Rumor atau gossip, dalam banyak hal, adalah “asap” yang paling mudah diciptakan. Ia tidak membutuhkan bahan bakar yang nyata. Ia cukup membutuhkan satu percikan kecil, entah berupa dugaan, potongan informasi, atau bahkan sekedar imajinasi yang dikemas seolah-olah fakta.
Dari sana, ia akan menemukan jalannya sendiri. Ia akan berpindah dari satu kepala ke kepala lain, dari satu grup percakapan ke grup berikutnya, dari satu media ke media lainnya. Ia membesar bukan karena kebenaran yang dikandungnya, tetapi karena resonansi emosional yang ia bangun.
Baca Juga : EL Nino Menyapa ? Sudah Siapkah Indonesia
Dan di tengah hiruk pikuk itu, tiba-tiba muncul satu kalimat penutup: “ tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api ”
Seketika, perdebatan yang sebelumnya terbuka menjadi tertutup. Bantahan yang semula rasional menjadi kehilangan daya.
Orang-orang yang mencoba menjelaskan fakta tiba-tiba seperti berbicara di ruang hampa. Kalimat itu tidak membuktikan apa-apa, tetapi berhasil menciptakan kesan bahwa sesuatu telah terbukti.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak bukan untuk menerima kalimat itu, tetapi untuk membedahnya.
Secara logika, pepatah “asap dan api” mengandung asumsi kausalitas. Bahwa setiap gejala pasti memiliki sebab yang sepadan, dan dalam konteks ini, bahwa rumor (asap) pasti berasal dari fakta (api).
Baca Juga : Pesta Babi, Ruang Sipil, dan Cara Baru Kekuasaan Membentuk Kesadaran
Namun, dalam kajian komunikasi modern, asumsi ini terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas realitas.
Seorang pemikir komunikasi, Walter Lippmann, pernah menyatakan bahwa manusia tidak merespons dunia secara langsung, melainkan melalui “gambar-gambar di dalam kepala mereka.” Artinya, apa yang kita anggap sebagai “asap” sering kali bukanlah refleksi dari kenyataan, melainkan hasil konstruksi persepsi kita sendiri. Kita tidak melihat api. Kita hanya melihat apa yang kita percayai sebagai api.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
