Dalam konteks ini, rumor bukanlah asap yang berasal dari api, melainkan kabut yang dibentuk oleh persepsi kolektif. Ia bisa muncul dari ketidakpastian, dari ketakutan, dari bias, bahkan dari kepentingan tertentu. Ia tidak selalu membutuhkan fakta sebagai fondasi. Ia hanya membutuhkan ruang kosong dalam pengetahuan publik dan ruang kosong itu hampir selalu ada.
Lebih jauh, teori framing dalam komunikasi menjelaskan bahwa cara sebuah isu dikemas akan sangat menentukan bagaimana ia dipahami. Ketika sebuah rumor dibingkai sebagai sesuatu yang “pantas dicurigai,” maka publik akan cenderung mencari pembenaran atas kecurigaan tersebut.
Kalimat “tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api” adalah bentuk framing yang sangat kuat. Ia memaksa kita melihat rumor sebagai bukti awal, bukan sebagai sesuatu yang harus diuji. Padahal, dalam banyak kasus, “asap” justru sengaja diciptakan untuk memberi kesan adanya “api.”
Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG
Dalam dunia politik, misalnya, strategi ini dikenal sebagai smear campaign menyebarkan isu atau dugaan untuk merusak reputasi seseorang tanpa perlu membuktikannya. Yang penting bukanlah kebenaran, melainkan kesan. Dan kesan itu cukup dibangun dengan “asap.”
Di era digital, fenomena ini semakin diperkuat oleh apa yang disebut sebagai illusory truth effect, yakni sebuah kecenderungan psikologis di mana informasi yang diulang-ulang akan terasa lebih benar, terlepas dari validitasnya.
Ketika sebuah rumor terus muncul di berbagai platform, ia mulai terasa akrab. Dan sesuatu yang akrab sering kali dianggap benar.
Baca Juga : EL Nino Menyapa ? Sudah Siapkah Indonesia
Maka, “asap” dalam konteks ini bukan lagi indikator keberadaan “api” melainkan hasil dari pengulangan yang sistematis. Ia adalah produk distribusi, bukan refleksi realitas.
Tidak berhenti di situ, teori agenda-setting juga memberi kita pemahaman bahwa media tidak selalu memberi tahu kita apa yang harus kita pikirkan, melainkan hal-hal yang seharusnya memenuhi ruang pikiran kita. Ketika sebuah isu diangkat terus-menerus, ia menjadi penting dalam persepsi publik. Dan ketika sesuatu dianggap penting, ia mulai diasosiasikan dengan kebenaran.
Dengan kata lain, “asap” bisa diciptakan dengan cara membuat sesuatu terus terlihat. Tidak perlu ada api. Cukup ada sorotan.
Baca Juga : Pesta Babi, Ruang Sipil, dan Cara Baru Kekuasaan Membentuk Kesadaran
Namun, mungkin yang paling berbahaya dari kalimat “ tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api ” adalah fungsinya sebagai penutup dialog. Ia bukan argumen yang membuka ruang diskusi, melainkan pernyataan yang menghentikannya. Ia tidak mengundang pembuktian, tetapi menolak keraguan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
