HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap korban bencana yang terjadi di Aceh dan Sumatera. Kali ini, selain tim medis, pihak UMI mengirip drone khusus untuk melacak lokasi bencana dan pasokan air bersih.
Rektor UMI, Prof Hambali Thalib mengatakan, upaya yang dilakukan UMI saat ini untuk membantu mempercepat pemulihan dan proses evakuasi.
Baca Juga : Halal bi Halal UMI Dirangkaikan Premiere Film “TEKAD”, Angkat Perjuangan Anak Tempuh Pendidikan
Tak hanya itu, pihaknya juga berbondong-bondong mengumpulkan berbagai kebutuhan para pengungsi di Aceh dan Sumatera.
“Nah, saat ini, penggunaan teknologi seperti drone menjadi langkah penting untuk membantu tim di lapangan,” ucapnya saat menggelar jumpa pers, Minggu (07/12/2025).
Ia menegaskan bahwa jarak ribuan kilometer tidak mengurangi komitmen UMI dalam memberikan pertolongan.
Baca Juga : Sepuluh Malam Terakhir Ramadan, FK UMI Gelar I’tikaf Bersama di Masjid Menara UMI
“Kami hadir bukan demi citra, tetapi karena menolong adalah nilai dasar kampus—ibadah yang harus ditunaikan,” ujarnya, Minggu, 7 Desember.
Tim medis Fakultas Kedokteran UMI telah lebih dulu tiba di Sumatera dan kini memberikan layanan kesehatan di beberapa camp pengungsian.
Selain membawa obat-obatan, mereka membawa keahlian: dokter, tenaga medis, hingga tenaga pendukung yang disiapkan untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah agar seluruh bantuan tepat sasaran.
Baca Juga : 9 Dosen UMI Kantongi Pendanaan Penelitian Multitahun 2026 dari LLDIKTI Wilayah IX
Melalui LPKM, UMI turut menggerakkan gerakan donasi besar yang melibatkan dosen, karyawan, mahasiswa, alumni, hingga masyarakat umum.
Bantuan difokuskan pada kebutuhan esensial: pelayanan kesehatan, obat-obatan, serta dukungan untuk kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan keluarga pengungsi lainnya.
“Laporan di lapangan menunjukkan beberapa titik kekurangan air bersih, sehingga distribusi air menjadi prioritas utama kami,” kata Prof Hambali.
Baca Juga : BI Waspadai Tekanan Inflasi 2026 di Sulsel, Bencana Alam dan HBKN Jadi Pemicu
Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramly, menyebut bahwa seluruh bantuan dirancang berdasarkan analisis kebutuhan yang paling mendesak.
“Setiap langkah yang kami ambil berlandaskan ilmu pengetahuan dan empati. Ini bukan sekadar bantuan, tetapi bentuk tanggung jawab kemanusiaan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, menambahkan bahwa sebagian besar dukungan berasal dari dana amaliah yang selama ini dikumpulkan secara rutin. Ia memastikan evaluasi dilakukan secara berkala agar penyaluran benar-benar memberi dampak.
“UMI juga tengah menyiapkan kajian akademik lintas disiplin untuk merumuskan pendekatan jangka panjang dalam penanganan bencana,” jelasnya.
Di sisi lain, Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran UMI, Irna Diyana Kartika, mengungkapkan bahwa tim relawan UMI diperkuat oleh dokter, tenaga medis, dan mahasiswa.
Pihaknya bekerja sama dengan Asosiasi Dokter Anestesi, IDAI, serta Universitas Sumatera Utara (USU). Pada gelombang pertama, UMI mengirim satu dosen, dua dokter, dan dua mahasiswa.
“Kebutuhan mendesak saat ini adalah dokter bedah karena banyak korban mengalami luka terbuka yang belum ditangani secara optimal,” bebernya.
“Selain bertugas memberikan pelayanan medis, tim kami turut membantu pembangunan tenda darurat di kawasan Kuala Simpang, Aceh, yang menjadi salah satu pusat pengungsian terbesar,” tutup Irna.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

