HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Ribuan hektare lahan pertanian di Sulawesi Selatan terdampak banjir yang melanda beberapa daerah dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel, sebanyak 9.531 hektare sawah terendam, dengan 1.204 hektare mengalami puso atau gagal panen total.
Baca Juga : Andi Amran Sulaiman Targetkan Kontrak Cetak Sawah 101 Ribu Hektare Tuntas dalam Sebulan
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel, Uvan Nurwahidah, menjelaskan bahwa sebagian lahan yang terdampak masih bisa diselamatkan. Dari total luas lahan terdampak, 2.311 hektare berpotensi pulih, sementara 6.515 hektare lainnya membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kena puso artinya tanaman tidak bisa sembuh lagi. Dari 9.531 hektare yang terdampak, ada 1.204 hektare yang benar-benar gagal panen,” ujar Uvan, Selasa (25/2/2025).
Dari data yang dihimpun, Kabupaten Wajo menjadi daerah dengan dampak puso terbesar, mencapai 1.033 hektare. Sementara itu, Kabupaten Maros mengalami puso pada 93,35 hektare lahan, dan Kabupaten Bone mencatat 21 hektare gagal panen.
Baca Juga : Mentan Amran Mulai Rehabilitasi 98 Ribu Hektare Sawah Pascabencana di Sumatera
Tak hanya padi, komoditas lain seperti jagung dan cabai juga terdampak. Di Kabupaten Wajo, 362 hektare lahan cabai terendam banjir, sementara untuk jagung, 202 hektare dari total 362 hektare yang terdampak mengalami puso.
Meski sebagian besar lahan terdampak mengalami puso, Uvan menjelaskan bahwa masih ada harapan bagi petani jika tanaman padi masih berusia 10-20 hari setelah tanam. Dalam kondisi tersebut, lahan masih bisa dipulihkan dengan metode tanam ulang.
“Kalau belum mengeluarkan buah dan belum produktif, masih bisa diganti dengan bantuan benih baru,” katanya.
Baca Juga : 1.000 Hektare Sawah Terendam Banjir di Maros
Untuk membantu petani yang terdampak, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menyiapkan cadangan benih yang akan diberikan kepada mereka yang mengalami kerugian. Selain itu, ada program asuransi pertanian yang memberikan ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektare bagi petani yang terdaftar.
Dinas terkait saat ini tengah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan data yang masuk akurat sebelum mendistribusikan bantuan.
“Kalau kabupatennya tidak mengusulkan, maka tidak akan diberikan bantuan. Tapi jika segera melaporkan data kerusakan, kami akan langsung menyalurkan bantuan,” tegas Uvan.
Baca Juga : 7.000 Hektar Sawah Terendam Banjir, Sulsel Terancam tak Capai Target Panen Raya
Penulis: Nursinta
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
