HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kreativitas di media sosial bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial menawarkan platform yang luas untuk mengekspresikan diri dan berbagi karya. Namun, di sisi lain, ada risiko yang perlu diwaspadai untuk menjaga keamanan dan reputasi.
Pastikan cerita yang bagikan tidak melanggar hak cipta, tidak mengandung ujaran kebencian, atau tidak mempromosikan tindakan berbahaya.
Ingat bahwa apa pun bisa menjadi permanen dan dilihat oleh banyak orang.
Baca Juga : Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi
Pastikan karya-karya mencerminkan nilai dan etika yang baik. Mengantisipasi dan mengurangi perdebatan yang tidak perlu atau konfrontatif.
Kisah seorang dosen dan tetangga berseteru di Malang karena penutupan akses jalan dibagikan ke media sosial berbuntut panjang. Sampai melibatkan aparat dan penegak hukum. Teknologi mengubah keadaan.
Membuat individu-individu mengalami tekanan dan kecemasan mental. Reputasi tergerus akibat komentar netizen. Siapa anda dan bagaimana anda adalah cerminan.
Baca Juga : Tenaga KDMP dan KNMP untuk Mencetak Kader Pembangunan Bukan Korban Kelalaian
Berinteraksi positif di dunia maya menuntut etika sosial dan menghindari konfrontasi yang berlebihan.
Di tengah kancah dinamika politik dan ekonomi, perilaku koruptif serta penguasa yang tidak amanah terasa amat menggerus kepercayaan publik. Kondisi ini menciptakan sentimen negatif yang jauh dari harapan akan kehidupan yang tentram dan makmur.
Alih-alih mendapatkan perubahan nyata, masyarakat justru dihadapkan pada janji-janji hampa dan ketidakselarasan antara ucapan dan tindakan.
Baca Juga : Pers Bermartabat Ketika Memilih Tidak Mengadili
​Fenomena yang baru-baru ini disaksikan, berupa ajakan pembangunan yang dibebankan pada “keikhlasan” rakyat melalui berbagai pungutan di ruang publik, menimbulkan pertanyaan besar.
Papan berjalan yang terpasang di tempat-tempat keramaian, seperti saat Car Free Day di Makassar, terasa tidak substansial dan terkesan merendahkan martabat.
Saat seharusnya warga menikmati waktu bersama keluarga dan berolahraga, mereka malah disuguhi pesan untuk “membayarkan entah pajak apa” demi pembangunan.
Baca Juga : 1-10 Muharram: Saatnya Memulai Hijrah dari Hal yang Paling Dekat
Hal ini sungguh ironis dan, terus terang, tidak berbeda jauh dengan praktik meminta-minta, sebuah pemandangan yang membuat kita kehilangan kata-kata. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
