Oleh Mustamin Raga
HARIAN.NEWS, GOWA – Sejarah manusia mungkin tidak pernah kekurangan orang baik. Yang selalu kurang justru kesepakatan tentang apa yang disebut baik. Sejarah juga tidak pernah kekurangan pejuang kebenaran. Yang tidak pernah selesai adalah pertanyaan: kebenaran yang mana?
Baca Juga : BADKO HMI Sulsel: Gubernur Gagal Memahami Makna Kritik Rakyat, Tanam Pisang Adalah Simbol Kekecewaan Publik
Hampir tidak ada perang yang dimulai dengan pengakuan, “Kami sedang membela kebohongan.” Tidak ada diktator yang naik mimbar sambil berkata, “Izinkan saya menindas kalian.” Tidak ada penjajah yang datang dengan spanduk bertuliskan, “Kami datang membawa keserakahan.” Sebaliknya, semuanya datang dengan nama yang terdengar mulia: keadilan, keamanan, kemerdekaan, agama, bangsa, demokrasi, bahkan kemanusiaan.
Maka perang terbesar di dunia sesungguhnya bukan perang senjata. Melainkan perang atas definisi tentang kebenaran.
Para filsuf sejak ribuan tahun lalu telah berusaha menjelaskan wajah kebenaran. Plato memandang kebenaran sebagai sesuatu yang berada di balik bayang-bayang dunia indrawi. Yang tampak belum tentu yang nyata. Muridnya, Aristoteles mengambil jalan yang lebih membumi. Baginya, sesuatu benar apabila sesuai dengan kenyataan. Berabad-abad kemudian, Immanuel Kant mengingatkan bahwa akal manusia memiliki batas. Kita mengenal dunia sebagaimana ia tampak bagi kita, bukan sebagaimana adanya.
Baca Juga : Takbir di Dalam Diri
Lalu datang para pemikir modern seperti Friedrich Nietzsche yang mengguncang fondasi itu. Ia curiga bahwa banyak “kebenaran” hanyalah tafsir yang berhasil menang. Apa yang disebut benar sering kali adalah suara yang paling kuat, paling berkuasa, atau paling lama diulang.
Di ruang agama, persoalannya memperoleh dimensi yang berbeda. Hampir semua agama mengajarkan bahwa kebenaran sejati berasal dari Tuhan. Namun ketika wahyu memasuki kepala manusia, ia berubah menjadi tafsir. Di sinilah muncul paradoks. Tuhan mungkin hanya satu, tetapi penafsir-Nya berjuta-juta. Yang mutlak adalah wahyu; yang relatif adalah pemahaman manusia terhadap wahyu itu.
Karena itu, sejarah agama bukan hanya sejarah pencarian Tuhan, tetapi juga sejarah perbedaan memahami Tuhan. Sering kali yang bertabrakan bukan firman-Nya, melainkan tafsir para pengikut-Nya.
Baca Juga : Menteri Agama: Jangan Monopoli Tafsir
Dalam filsafat hukum dikenal pula pembedaan antara kebenaran deontik dan non-deontik. Kebenaran deontik berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan: kewajiban, larangan, hak, dan tanggung jawab. Ia hidup dalam dunia norma. Sebaliknya, kebenaran non-deontik berbicara tentang apa yang ada: fakta, kenyataan, bukti, dan hubungan sebab akibat.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
