Logo Harian.news

Bukan Menistakan, JK Bahas Realitas Konflik Poso dan Ambon

Editor : Redaksi Minggu, 12 April 2026 10:28
Muhammad Jusuf Kalla (JK). (Dok. Screeshoot/FB Husain Abdullah)
Muhammad Jusuf Kalla (JK). (Dok. Screeshoot/FB Husain Abdullah)

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla atau akrab disapa JK yang beredar di media sosial memicu polemik. Sejumlah akun Instagram mengunggah cuplikan pernyataannya disertai narasi yang menuding JK memfitnah dan menistakan ajaran Kekristenan.

Konten tersebut berangkat dari pernyataan JK yang menyinggung istilah “mati syahid” dalam konflik di Poso dan Ambon. Namun setelah ditelusuri, narasi yang beredar dinilai menyesatkan karena menghilangkan konteks utuh ceramah.

Juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa video yang beredar merupakan potongan yang tidak mencerminkan keseluruhan isi ceramah yang disampaikan di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Kamis (5/3/2026).

Baca Juga : Ade Armando Hengkang dari PSI, Khawatir Ucapan Bikin Partai Terjungkal

Potongan Ceramah yang Viral
Dalam video yang beredar, JK terdengar mengatakan bahwa konflik seperti di Poso dan Ambon sulit dihentikan karena masing-masing pihak merasa tindakannya dibenarkan, termasuk keyakinan bahwa membunuh atau mati dalam konflik dianggap sebagai “syahid”.

Potongan inilah yang kemudian dipersepsikan secara keliru oleh sejumlah akun, seolah-olah JK sedang membahas atau menghakimi ajaran agama tertentu.

Klarifikasi: Menjelaskan Fakta Konflik, Bukan Doktrin Agama

Husain Abdullah menegaskan, konteks pernyataan JK adalah penjelasan historis dan sosiologis mengenai konflik bernuansa SARA yang pernah terjadi di Indonesia, bukan ceramah teologis.

Baca Juga : Sengketa Mobil Berujung Emosi, SK Beri Penjelasan

“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas di lapangan saat konflik Poso dan Ambon terjadi. Pada masa itu, kedua kelompok yang bertikai sama-sama menggunakan simbol agama untuk membenarkan tindakan kekerasan,” jelas Husain di Jakarta, Sabtu (10/4).

Menurutnya, JK justru berupaya meluruskan pemahaman keliru tersebut di hadapan civitas akademika UGM. Ia menekankan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan saat konflik tidak dapat dibenarkan secara agama maupun kemanusiaan.

Peran JK dalam Perdamaian

Husain juga mengingatkan bahwa sikap kritis JK terhadap narasi “perang suci” menjadi salah satu kunci meredakan konflik. Melalui pendekatan dialog, JK berhasil mempertemukan kedua pihak dalam perundingan damai di Malino, Sulawesi Selatan.

Baca Juga : Kaesang Pangarep Klarifikasi Soal Beli Roti Rp 400 Ribu di Amerika Serikat

Perdamaian tersebut terwujud melalui dua momentum penting, yakni Perundingan Malino I dan Perundingan Malino II, yang kemudian melahirkan Deklarasi Malino.

Konflik Poso dan Ambon sendiri terjadi sekitar akhir 1990-an hingga awal 2000-an dan menelan ribuan korban jiwa. Di Poso tercatat sekitar 2.000 orang meninggal, sementara di Ambon mencapai lebih dari 5.000 korban dalam kurun kurang dari tiga tahun.

Tegaskan Pesan Perdamaian

Husain menegaskan, dalam berbagai kesempatan JK selalu menekankan bahwa kekerasan atas nama agama adalah penyimpangan.

Baca Juga : Kaesang Klaim Nebeng Jet Pribadi, Riuh Netizen Berlanjut

“Pak JK justru meluruskan bahwa tindakan membunuh, apalagi terhadap anak-anak, perempuan, dan orang tua, adalah pelanggaran nilai kemanusiaan dan tidak dibenarkan dalam ajaran agama mana pun,” tegasnya.

Dengan demikian, narasi yang menyebut JK menistakan agama dipastikan tidak berdasar dan muncul akibat pemotongan video tanpa konteks yang utuh.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda