Logo Harian.news

HWDI Makassar Dorong Perempuan Disabilitas Tak Lagi Dinomorduakan

Editor : Redaksi II Kamis, 17 September 2026 13:09
Pelaksanaan maulid nabi yang digelar HWDi Makassar di Sentra Wirajaya Makassar. (Dok. Gita/HN)
Pelaksanaan maulid nabi yang digelar HWDi Makassar di Sentra Wirajaya Makassar. (Dok. Gita/HN)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kota Makassar menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai ajang mempererat silaturahmi antarkomunitas disabilitas, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dan berlangsung di aula Sentra Wirajaya, Makassar. Peserta berasal dari pengurus dan anggota HWDI, organisasi penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan, tokoh masyarakat, NGO, serta perwakilan instansi pemerintah.

Baca Juga : BBPJN Puji MYP Sulsel, Perbaikan 1.000 Km Jalan Dinilai Perkuat Konektivitas Antarwilayah

Ketua HWDI Kota Makassar, Nia Salestin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif pengurus dan anggota HWDI.

Pelaksanaannya didukung partisipasi internal organisasi serta sejumlah pihak, di antaranya Dinas Sosial Kota Makassar, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar, YASMIB Sulawesi Barat, PLN, dan Kalla Group.

“Tujuan yang paling pertama itu silaturahmi antara kita disabilitas, organisasi disabilitas yang ada di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan,” kata Nia kepada harian.news, Rabu (16/09/2026).

Baca Juga : REWAKO Buka Jalan Busana Berbasis Wastra Lokal EIWA Dilirik Pasar Global

Menurutnya, kegiatan tersebut dilaksanakan secara mandiri oleh perempuan penyandang disabilitas yang tergabung dalam HWDI.

Organisasi tersebut menaungi empat ragam disabilitas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yakni disabilitas fisik, intelektual, sensorik, dan mental.

“Ini memang murni kami disabilitas perempuan yang melaksanakan maulid ini,” ujarnya.

Baca Juga : Porserosi Sulsel Resmi Dilantik, Bidik Pembinaan Atlet Muda Menuju PON 2028

Nia menjelaskan, sekitar 200 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Sekitar 100 orang di antaranya merupakan pengurus dan anggota HWDI, sementara peserta lainnya berasal dari organisasi penyandang disabilitas, NGO, tokoh masyarakat, serta sejumlah instansi pemerintah.

Ia juga mengapresiasi Kementerian Sosial yang memberikan akses penggunaan aula Sentra Wirajaya sebagai lokasi kegiatan.

“Sentra Wirajaya ini miliknya pemerintah, khususnya Kementerian Sosial. Jadi tidak salah kalau kegiatan yang dilaksanakan organisasi disabilitas meminta tempatnya di aula ini,” katanya.

Baca Juga : Musda ASITA Sulsel 2026 Jadi Momentum Perkuat Industri Pariwisata Daerah

Selain mempererat hubungan antarkomunitas, Nia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kerja sama antara organisasi disabilitas, pemerintah, dan lembaga masyarakat dalam memperjuangkan hak perempuan penyandang disabilitas.

Menurutnya, perempuan penyandang disabilitas masih menghadapi pandangan yang menempatkan mereka sebagai kelompok yang berada di posisi kedua.

“Harapan kami kepada pemerintah, semoga untuk tahun-tahun mendatang perempuan atau organisasi disabilitas itu jangan dinomorduakan, tetapi disamakan,” ujarnya.

Nia menegaskan, perempuan penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Karena itu, advokasi yang dilakukan HWDI diarahkan untuk memastikan hak-hak tersebut diakui dan dipenuhi.

“Kalau kami dinomorduakan, bagaimana? Padahal kami juga punya hak yang sama seperti masyarakat pada umumnya,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, pesan keagamaan juga menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas. Nia mengatakan masyarakat tidak seharusnya menilai penyandang disabilitas sebagai manusia yang tidak normal.

“Jangan menilai bahwa mereka itu tidak normal. Padahal di mata Tuhan itu semua sama,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi tersebut mengangkat tema “Memperkuat Generasi yang Berkarakter Islami”. Nia berharap tema tersebut dapat menjadi pengingat bagi keluarga dan komunitas untuk membangun generasi yang memiliki nilai keislaman, integritas, serta kepedulian terhadap sesama.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dimulai sejak dini, termasuk dalam lingkungan keluarga, agar anak-anak tumbuh dengan pemahaman agama dan sikap menghargai keberagaman.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda