Oleh: Dr. Ir. Abdul Haris, S.P., M.P., IPM (Dekan Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang Universitas Muslim Indonesia (FP-Biotam UMI)
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar dan beberapa wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat. Kendaraan roda dua, mobil pribadi hingga angkutan harus menunggu untuk memperoleh bahan bakar minyak (BBM), komoditas vital bagi mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Baca Juga : Pantau Antrean di SPBU, Sekda Jeneponto Imbau Warga Tak Panic Buying
Fenomena tersebut bukan persoalan kecil. ANTARA pada 12 September 2026 melaporkan antrean di salah satu SPBU di Makassar mencapai ratusan meter dan menghambat arus lalu lintas. Sejumlah warga bahkan mengantre sejak subuh. Di beberapa lokasi, antrean dilaporkan mencapai lebih dari satu kilometer dan membuat pengendara menunggu berjam-jam.
Di tengah kondisi itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyatakan stok BBM berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Karena itu, antrean saat ini tidak tepat jika semata-mata disebut sebagai bukti habisnya stok BBM. Persoalan distribusi, peningkatan permintaan, pola pembelian masyarakat hingga efektivitas pelayanan SPBU juga perlu dibenahi.
Namun, fenomena tersebut tetap menjadi alarm penting bagi ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang. Ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil membuat setiap gangguan pasokan dan distribusi segera berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan sosial.
Baca Juga : Antrean Truk di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar Menambah Kemacetan
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan tantangan Indonesia bukan sekadar ketersediaan stok BBM harian. Produksi minyak bumi nasional pada Januari-Juli 2026 rata-rata sekitar 578 ribu barel per hari. Sementara itu, kapasitas produksi bensin dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Kementerian ESDM menyebut kebutuhan bensin Indonesia sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan kapasitas produksi sebelumnya sekitar 14,3 juta kiloliter. Setelah tambahan kapasitas dari Kilang Balikpapan pada 2026, Indonesia masih menghadapi kebutuhan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter.
Kondisi global juga memperlihatkan risiko ketergantungan terhadap energi fosil. Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Agustus 2026 naik menjadi US$89,43 per barel dari US$81,68 per barel pada Juli. Kementerian ESDM mengaitkan kenaikan tersebut antara lain dengan risiko geopolitik dan kekhawatiran gangguan pasokan pada jalur distribusi minyak internasional.
Karena itu, persoalan energi tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah pasokan BBM fosil. Indonesia membutuhkan transformasi menuju sumber energi domestik yang lebih beragam dan berkelanjutan. Sektor pertanian memiliki posisi strategis melalui pengembangan bahan bakar nabati (BBN).
Baca Juga : Klarifikasi Pengelola SPBU Lita Soal Video Viral Pengisian Solar Jerigen
Dekan Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang Universitas Muslim Indonesia (FP-Biotam UMI), Dr. Ir. Abdul Haris, S.P., M.P., IPM, menegaskan fenomena antrean BBM harus menjadi momentum untuk memperkuat penelitian dan hilirisasi komoditas pertanian sebagai sumber energi terbarukan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
