HARIAN.NEWS,JAKARTA — Perbedaan pandangan yang disampaikan secara terbuka antara Purbaya Yudhi Sadewa dan Sakti Wahyu Trenggono dinilai mencerminkan adanya tantangan dalam koordinasi komunikasi antarpejabat di lingkungan kabinet.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai dinamika perbedaan pendapat dalam proses kebijakan merupakan hal yang wajar di internal pemerintahan. Namun, ketika perbedaan tersebut berkembang di ruang publik tanpa narasi yang selaras, publik dapat menangkapnya sebagai persoalan koordinasi.
“Ini bukan semata soal siapa yang benar atau salah, tetapi bagaimana koordinasi komunikasi dijalankan. Jika antarmenteri menyampaikan pesan yang berbeda tanpa penjelasan yang terintegrasi, yang muncul adalah kesan tidak kompak,” ujar Arifki.
Baca Juga : Saat Menkeu Purbaya Ancam Bekukan Bea Cukai
Ia mengingatkan bahwa para menteri merupakan pembantu presiden dan bekerja dalam satu garis kepemimpinan. Karena itu, penting untuk memastikan tidak muncul persepsi adanya kubu-kubu di dalam kabinet. Seluruh jajaran pemerintahan, menurutnya, harus menunjukkan soliditas dalam mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini, persepsi ketidaksinkronan komunikasi berpotensi memengaruhi penilaian publik terhadap kinerja pemerintah secara keseluruhan. Dalam sistem presidensial, soliditas kabinet menjadi salah satu indikator stabilitas dan efektivitas pemerintahan.
“Perbedaan itu wajar dalam proses internal. Namun, ketika dikomunikasikan tanpa koordinasi yang memadai, publik bisa menilai ada lemahnya pengelolaan komunikasi pemerintah. Ini yang perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada persepsi terhadap kinerja pemerintah,” katanya.
Baca Juga : Forum Pemred Gelar “Run for Good Journalism 2025”, Kampanyekan Jurnalisme Terverifikasi dan Lawan Hoaks
Ia menekankan pentingnya penguatan mekanisme sinkronisasi lintas kementerian, baik dalam perumusan kebijakan maupun dalam penyampaian pesan kepada publik. Dengan komunikasi yang lebih terorkestrasi, dinamika internal tetap dapat terkelola tanpa menimbulkan kesan fragmentasi di ruang publik.
“Harapannya ke depan koordinasi komunikasi antarmenteri semakin diperkuat, sehingga setiap kebijakan strategis dapat disampaikan dalam satu kerangka narasi yang utuh dan mencerminkan soliditas pemerintahan,” tutup Arifki. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
