HARIAN.NEWS, JAKARTA – Pengamat politik Arifki Chaniago menilai pertemuan antara Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono di Cikeas bukan sekadar ajang silaturahmi Lebaran.
Pertemuan itu dinilai sarat pesan politik dan membuka kembali peluang duet Anies–AHY pada Pemilihan Presiden 2029.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu menyebut, momentum halal bihalal kerap menjadi ruang komunikasi politik yang penuh makna di kalangan elite. Dalam konteks ini, pertemuan di Cikeas dipandang sebagai langkah simbolik untuk “memancing” opsi kerja sama politik ke depan.
Baca Juga : AHY: Demokrat Sulbar Kian Membiru, Saatnya Rebut Kemenangan 2029
“Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ujar Arifki.
Ia menjelaskan, kedekatan Anies dengan Partai Demokrat bukanlah hal baru. Relasi keduanya telah terjalin sejak lama, salah satunya saat Anies mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada 2014 di era kepemimpinan SBY.
“Artinya, hubungan Anies dengan Demokrat memiliki irisan sejarah politik yang cukup panjang,” katanya.
Baca Juga : Prabowo Sebut Malu Maju Pilpres 2029: Jika Gagal Saya Tidak akan Mencalonkan lagi!
Selain itu, pada Pemilihan Presiden 2024, duet Anies–AHY sempat menjadi skenario utama sebelum akhirnya batal pada tahap akhir.
Menurut Arifki, hal ini menunjukkan bahwa komunikasi politik di antara keduanya sudah terbangun dan memiliki fondasi yang kuat.
Lebih jauh, Arifki menilai peluang duet tersebut sangat bergantung pada dinamika politik ke depan, terutama terkait posisi AHY dalam pemerintahan Prabowo Subianto.
Baca Juga : AHY Kembali Pimpin Demokrat 2025-2030 Secara Aklamasi
Ia melihat adanya kemungkinan Demokrat menyiapkan langkah antisipatif jika tidak mendapatkan ruang politik yang cukup.
“Jika Demokrat tidak memperoleh ruang yang memadai di pemerintahan, maka peluang membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang 2029,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dinamika komunikasi politik yang kian cair antara Prabowo dengan sejumlah tokoh nasional, termasuk Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo.
Baca Juga : DPC Demokrat Gowa Tegaskan Dukungan Penuh untuk AHY di Kongres
Dalam situasi itu, AHY dinilai tengah menyiapkan “payung sebelum hujan”, dengan membuka opsi komunikasi ke berbagai arah, termasuk dengan Anies.
Di sisi lain, Arifki mengakui tantangan terbesar duet Anies–AHY terletak pada ambisi politik masing-masing. Keduanya sama-sama memiliki posisi tawar sebagai calon presiden.
“Ini yang perlu dicarikan titik temu. Tapi dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” jelasnya.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman SBY di Cikeas juga dinilai memiliki makna simbolik tersendiri. Selama ini, Cikeas kerap menjadi pusat konsolidasi dan penentuan arah politik Partai Demokrat.
“Kalau pertemuan ini berlangsung hangat, artinya komunikasi politik tidak hanya terbuka, tapi juga mendapat ruang yang serius,” kata Arifki dalam keterangannya dikirim ke harian.news.
Ia menegaskan, pertemuan tersebut memang belum menghasilkan keputusan politik konkret. Namun, cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam membuka kembali kemungkinan duet Anies–AHY pada Pilpres 2029.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
