HARIAN.NEWS, HANGZHOU — Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok Li Qiang menghadiri upacara pembukaan Global Digital Trade Expo (GDTE) ke-5 di Hangzhou, Tiongkok, Kamis (24/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Li Qiang menyampaikan pidato mengenai arah perkembangan perdagangan global di tengah pesatnya digitalisasi ekonomi.
Li Qiang mengatakan, Global Digital Trade Expo telah berkembang menjadi salah satu platform penting untuk mendorong kerja sama ekonomi digital global.
Menurutnya, teknologi digital kini semakin terintegrasi dalam berbagai bidang dan proses pembangunan ekonomi serta sosial. Perkembangan tersebut turut mengubah pola produksi, gaya hidup, hingga tata kelola masyarakat.
“Perdagangan digital” dinilai menghadirkan daya dorong dan peluang baru bagi perekonomian dunia. Konektivitas antarpasar negara menjadi semakin mudah, sementara inovasi dan perkembangan perdagangan global berlangsung semakin cepat.
Namun, Li Qiang juga menyoroti sejumlah tantangan yang muncul bersamaan dengan perkembangan tersebut, antara lain kesenjangan pembangunan baru, hambatan ekonomi dan perdagangan, serta aturan perdagangan digital yang belum sepenuhnya lengkap.
Li Qiang kemudian menyampaikan tiga pandangan mengenai arah perdagangan global di era digital.
Pertama, masyarakat internasional perlu memahami perubahan dan tren baru dalam ekonomi serta perdagangan melalui perkembangan perdagangan digital.
Kedua, perdagangan global di era digital perlu dikembangkan dengan prinsip keterbukaan. Menurut Li Qiang, konektivitas digital perlu diperkuat untuk mendorong perdagangan yang lebih bebas, sementara penyelarasan dan pengakuan bersama terhadap standar perlu terus dilakukan.
Ia juga menekankan pentingnya mempersempit kesenjangan digital agar manfaat perdagangan digital dapat dirasakan secara lebih luas.

Kerja sama Utara-Selatan di bidang perdagangan digital, kata dia, perlu diperkuat, termasuk melalui dukungan terhadap negara-negara berkembang dalam aspek teknologi, infrastruktur, serta pengembangan sumber daya manusia.
Selain itu, tata kelola digital dinilai perlu terus disempurnakan untuk menciptakan perdagangan yang lebih tertib. Li Qiang menekankan pentingnya menghormati kondisi masing-masing negara serta mengoptimalkan peran Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan berbagai mekanisme kerja sama lainnya.
Ia juga menyerukan percepatan konsultasi mengenai aturan perdagangan digital dan menolak pengelompokan berdasarkan blok maupun pengaturan yang bersifat eksklusif.
“Semua pihak perlu berupaya mencari titik temu terbesar demi membangun tatanan ekonomi dan perdagangan yang adil dan rasional,” demikian pokok pandangan yang disampaikan Li Qiang.
Kontribusi Tiongkok
Dalam pidatonya, Li Qiang juga memaparkan langkah yang akan ditempuh Tiongkok untuk memberikan kontribusi lebih besar terhadap perdagangan digital global.
Tiongkok, kata dia, akan terus memperluas permintaan konsumsi digital, menjalankan program peningkatan konsumsi digital, serta memperdalam penerapan program “AI + Konsumsi”.
Pemerintah Tiongkok juga akan semakin melonggarkan akses pasar dan mengoptimalkan kebijakan impor ritel melalui perdagangan elektronik lintas batas. Kebijakan tersebut diarahkan untuk membuka peluang pasar Tiongkok lebih luas bagi berbagai negara.
Di sektor industri, Tiongkok akan memperkuat fondasi industri digital dan mempercepat pembangunan sistem industri modern. Pertukaran serta kerja sama internasional di bidang digital juga akan terus ditingkatkan.
Li Qiang mengatakan pengembangan teknologi kecerdasan buatan dan teknologi lainnya di Tiongkok akan tetap mengedepankan keterbukaan dan pendekatan sumber terbuka.
Langkah tersebut, menurutnya, diharapkan dapat membangun semacam “tangga digital” yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan bersama oleh berbagai negara.
Tiongkok juga akan mengoptimalkan lingkungan pengembangan digital, memperkuat standardisasi perdagangan digital, menyempurnakan sistem dasar serta model pengawasan data, dan mendorong investasi serta kerja sama di sektor perdagangan digital.
Melalui berbagai langkah tersebut, Tiongkok menyatakan siap turut memberikan solusi bagi penyempurnaan aturan perdagangan digital internasional.
Dihadiri Perwakilan Hampir 50 Negara
Pembukaan Global Digital Trade Expo ke-5 turut dihadiri Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Perdana Menteri Kirgizstan Adylbek Kasymaliev. Keduanya juga menyampaikan pidato dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Direktur Jenderal Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO) Gerd Müller dan sejumlah tokoh lainnya menyampaikan pidato melalui video.
Lebih dari 1.200 perwakilan dari berbagai kalangan yang berasal dari hampir 50 negara dan wilayah, serta organisasi internasional terkait, menghadiri upacara pembukaan.
Dalam pidatonya, para pemimpin negara asing menyampaikan bahwa Global Digital Trade Expo menyediakan platform bagi berbagai negara untuk membahas kerja sama, mendorong pembangunan bersama, dan berbagi hasil pembangunan.
Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada Tiongkok atas upayanya berbagi hasil pembangunan dengan berbagai negara.
Para pemimpin tersebut berharap kerja sama dengan Tiongkok dapat terus diperkuat untuk mengatasi kesenjangan digital serta membangun tatanan perdagangan digital global yang adil, berorientasi pada kemaslahatan, aman, inklusif, dan dapat dinikmati berbagai pihak.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus memberikan dorongan bagi pembangunan berkelanjutan dunia.
Sebelum upacara pembukaan dimulai, Li Qiang bersama para pemimpin negara asing yang menghadiri acara tersebut melakukan peninjauan ke area pameran Global Digital Trade Expo.
Sekretaris Jenderal Dewan Negara Tiongkok Wu Zhenglong turut menghadiri rangkaian kegiatan tersebut.
Sumber: Xinhua Net, 24 September 2026.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
