Logo Harian.news

Reksa Dana, Pintu Masuk Investasi Aman bagi Pemula

Editor : Redaksi II Jumat, 08 Mei 2026 16:08
Tegar Amanda, mahasiswa semester 8 di STIEM Bongaya. Ia telah aktif melakukan investasi sejak menjadi mahasiswa baru. Ia belajar instrumen investasi di KSPM GI BEI STIEM Bongaya. (Dok. Gita/HN)
Tegar Amanda, mahasiswa semester 8 di STIEM Bongaya. Ia telah aktif melakukan investasi sejak menjadi mahasiswa baru. Ia belajar instrumen investasi di KSPM GI BEI STIEM Bongaya. (Dok. Gita/HN)

“Mengutip perkataan pak Purbaya Menteri Keuangan, jika anda tidak ingin kerja sampai tua nanti, maka berinvestasilah. Dan awali investasimu dengan reksa dana.”

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Duduk di depan layar monitor, Fajri Maulana memperhatikan pergerakan saham hari ini, Selasa (5/5/2026). Sesekali, ia mengecek ponsel yang digenggamnya. Dahinya mengerut. Telunjuknya sibuk mondar-mandir di layar ponsel.

Di ruangan yang kira-kira berukuran 4×2 meter itu,  bukan hanya Fajri di dalamnya. Persis di samping meja panjang, terlihat sekelompok mahasiswa yang sedang asyik bermain Stocklab (permainan kartu edukatif simulasi pasar modal yang dirancang Otoritas Jasa Keuangan untuk mengenalkan saham dan reksa dana).

Baca Juga : Unismuh-USIM Lanjutkan Kolaborasi Riset dan Mobilitas Akademik

Tawa riang gembira menyelimuti Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GI BEI) STIEM Bongaya Makassar. Para mahasiswa sangat senang belajar saham dan investasi sambil bermain. Mereka saling mengedukasi soal cara investasi, risiko investasi dan cara awal memulai reksa dana.

Mahasiswa KSPM GI BEI STIEM Bongaya Makassar sedang bermain Stocklab. (Dok. Gita/HN)

Di tengah suasana itu, Fajri yang juga mahasiswa aktif Sekolah Ilmu Ekonomi Makassar (STIEM) Bongaya Makassar pelan-pelan mendekat. Ia terlihat serius memperhatikan jalannya permainan dan sesekali memberi pendapat kepada temannya.

Baca Juga : Rakernas ASITA 2026 Dorong Sinergi Pariwisata dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Saat dikonfirmasi harian.news, Fajri mengaku telah belajar investasi sejak Covid-19 menyebar di Indonesia. Waktu itu, pembahasan saham dan investasi sangat ramai diperbincangkan di media sosial. Rasa penasaran akhirnya membuat Fajri ingin tahu lebih jauh tentang dunia investasi.

“Waktu itu saya masih mahasiswa baru. Karena penasaran, saya cari informasi tentang investasi dan akhirnya bergabung Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) GI BEI STIEM Bongaya,” ucapnya.

Proses belajar Fajri cukup panjang. Ia awalnya aktif mengikuti diskusi dan workshop hingga akhirnya memutuskan untuk berinvestasi di reksa dana. “Awalnya saya sempat ragu, tapi saya berpikir kalau tidak mulai dari sekarang, kapan bisa paham.”

Baca Juga : Dua Mahasiswa Pendidikan Biologi Unismuh Lulus Tanpa Skripsi Lewat Publikasi Sinta 2

Fajri pun menyadari, persiapan masa depan tidak cukup hanya dengan menabung. Ia meyakini investasi bisa menjadi batu loncatan membangun kebiasaan finansial sejak muda.

“Sejak saya masuk KSPM, nama emiten, sektor pertambangan hingga pergerakan indeks menjadi obrolan saya sehari-hari dengan anggota lainnya.” Investasi dan pasar modal sudah menjadi kebiasaan yang dibangun Fajri tiap hari.

Menurut Fajri, ia belum sepenuhnya memahami investasi. Masih banyak yang perlu diketahui, mulai dari mengenal instrumen investasi, memahami keuntungan dan risiko hingga mengetahui profil risiko diri sendiri.

Baca Juga : Juri Ungkap Rahasia Juarai Lomba Jurnalistik JNE 2026

“Banyak anak muda yang tergoda investasi hanya karena ikut tren, belum paham dasarnya sudah berani investasi. Padahal investasi bukan hanya mengejar keuntungan cepat. Literasi dan edukasi sangat penting. Harus tahu cara kerjanya, risiko dan tujuannya,” jelas Fajri.

Reksa Dana Instrumen Investasi Aman

Meski tertarik pada saham, Fajri juga mulai mengenalkan reksa dana  kepada mahasiswa lain. Bersama KSPM, ia aktif melakukan edukasi tentang investasi yang lebih sederhana dan cocok untuk pemula.

Fajri Maulana saat diwawancara harian.news. (Dok. Gita/HN)

Menurut Fajri, reksadana menjadi pilihan menarik bagi mahasiswa maupun pekerja yang belum punya banyak waktu menganalisis pasar setiap hari. Dalam reksa dana, dana investor akan dikelola oleh manajer investasi profesional.

“Kalau di reksa dana, investor tidak perlu terlalu lama menganalisis saham sendiri karena sudah ada manajer investasi yang mengelola,” katanya.

Melalui edukasi yang dilakukan KSPM bersama perusahaan sekuritas, mahasiswa diajak memahami cara kerja reksa dana, mulai dari proses pembelian hingga manfaat investasi jangka panjang.

Bagi Fajri sendiri, investasi bukan soal cepat kaya. Ia mengaku masih dalam tahap membangun pondasi keuangan dan menyesuaikan investasi dengan profil risikonya yang cenderung rendah.

“Menurut saya investasi itu jangka panjang. Bukan soal siapa yang paling cepat untung, tapi bagaimana kita konsisten membangun kebiasaan,” ucapnya.

Keuntungan yang didapatkan selama beberapa tahun terakhir memang belum besar. Namun baginya, nilai terpenting bukan hanya angka keuntungan, melainkan cara berpikir yang mulai berubah.

“Dari yang sebelumnya hanya menghabiskan uang untuk kebutuhan sesaat, kini saya mulai belajar menyisihkan sebagian untuk masa depan,” pungkasnya.

Pahami Dasar Investasi dan Mulailah dengan Reksa Dana

Di ruangan terpisah, Tegar Amanda yang juga aktif Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) GI BEI STIEM Bongaya mempercayakan investasinya di reksa dana. Menurutnya, reksa dana sangat cocok bagi mahasiswa karena memiliki risiko lebih rendah dan modal awal yang terjangkau.

“Reksa dana cocok untuk pemula karena dikelola langsung oleh manajer investasi profesional. Selain itu, modal awalnya juga ringan, mulai dari Rp10 ribu,” ujarnya.

Menurut Tegar, sebelum memulai investasi, mahasiswa perlu memahami dasar-dasar investasi, terutama terkait profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

“Ada tiga profil risiko, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Dari situ kita bisa menentukan investasi yang cocok,” katanya.

Tegar Amanda memperlihatkan instrumen investasi yang ia gunakan. (Dok. Gita/HN)

Ia menjelaskan, banyak mahasiswa mulai tertarik pada investasi karena pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi digital. Namun, kondisi tersebut juga membuat sebagian anak muda terjun ke investasi tanpa memahami literasi keuangan dengan baik.

Karena itu, Tegar menekankan pentingnya prinsip “legal dan logis” sebelum memilih produk investasi.

“Kalau ada investasi yang menjanjikan keuntungan terlalu besar dalam waktu cepat, masyarakat harus hati-hati dan memastikan investasi itu diawasi OJK,” jelasnya.

Selain aktif di KSPM, Tegar juga terlibat dalam berbagai kegiatan seminar literasi keuangan bersama OJK dan Galeri Investasi kampus. Edukasi yang diberikan mencakup pengenalan investasi legal, pengelolaan keuangan, hingga bahaya investasi ilegal.

Menurutnya, reksa dana dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk membangun kebiasaan investasi dan pengelolaan keuangan jangka panjang.

“Mengutip perkataan pak Purbaya Menteri Keuangan, jika anda tidak ingin kerja sampai tua nanti, maka berinvestasilah. Dan awali investasi dengan reksa dana,” pungkasnya.

Perkuat Literasi Sebelum Memulai Investasi 

Kepala GI BEI STIEM Bongaya, Rezki Arianti, menceritakan peranannya yang selama ini membimbing dan mengedukasi para mahasiswa yang bergabung di KSPM.

“Tujuan kami memang membangun minat mahasiswa untuk belajar investasi sejak dini melalui edukasi dan praktik langsung,” ujarnya.

Rezki menjelaskan, kehadiran Galeri Investasi STIEM Bongaya telah menjadi wadah mahasiswa untuk memulai pemahaman financial lewat investasi dan pasar modal.

“Selama satu dekade atau 2016 lalu, kami telah terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi pasar modal untuk membimbing pengembangannya untuk generasi muda,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan minat investasi di kalangan generasi muda harus dibarengi dengan penguatan literasi keuangan agar mahasiswa tidak hanya ikut tren atau fenomena fear of missing out (FOMO).

“Kebanyakan anak muda langsung berinvestasi tanpa memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu. Di sini kami mencoba memperkuat literasinya,” katanya.

Mahasiswa KSPM GI BEI STIEM Bongaya saat belajar investasi. (Dok. Gita/HN)

Sebagai bentuk penguatan edukasi, STIEM Bongaya sejak 2023 juga memasukkan Praktikum Pasar Modal sebagai mata kuliah wajib di Program Studi Manajemen.

“Mahasiswa diajarkan cara membuka rekening investasi, memahami transaksi saham, hingga mengenal berbagai instrumen investasi.”

Selain itu, Galeri Investasi bersama Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) rutin mengadakan seminar literasi keuangan, Sekolah Pasar Modal, hingga simulasi investasi melalui permainan edukatif Stocklab.

“Melalui Stocklab, mahasiswa belajar investasi dengan cara yang lebih santai dan mudah dipahami,” ujar Rezki.

Tak hanya itu, Rezki juga menyarankan untuk pemula memulai investasi lewat reksa dana. “Reksa dana instrumen investasi yang paling cocok diperkenalkan kepada mahasiswa dan pemula karena memiliki risiko relatif rendah dan modal awal yang terjangkau.”

Menurut Rezki, reksa dana juga menjadi sarana untuk memperluas inklusi keuangan di kalangan mahasiswa karena pengelolaan dananya dilakukan oleh manajer investasi profesional sehingga lebih aman bagi pemula.

Tidak hanya menyasar mahasiswa, Galeri Investasi STIEM Bongaya juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar kampus melalui seminar dan sosialisasi literasi keuangan.

Rezki berharap edukasi yang dilakukan dapat mengubah pandangan masyarakat bahwa investasi bukan lagi aktivitas eksklusif bagi kalangan tertentu.

“Sekarang investasi sudah lebih mudah dijangkau. Mahasiswa pun sudah bisa mulai berinvestasi sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.

Mengenal Reksa Dana

Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) terus memperkuat pemahaman investasi kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan, khususnya lewat program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) 2026.

Dewan Presidium APRDI, Marsangap P. Tamba, mengatakan peningkatan jumlah investor reksa dana harus dibarengi dengan penguatan literasi dan pemahaman masyarakat terkait investasi yang aman dan legal.

“Oleh karena itu, penguatan literasi dan inklusi keuangan perlu terus dilakukan, khususnya kepada generasi muda,” ujarnya.

Marsangap mengatakan reksa dana bisa diibaratkan seperti satu paket investasi yang didalamnya berisi banyak instrumen atau diversifikasi aset, sehingga risiko dapat tersebar.

“Kalau kita ibaratkan ini seperti gado-gado atau omakase, sudah ada ahlinya yang meracik. Jadi investor bisa langsung menikmatinya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Marsangap menerangkan, dalam investasi reksa dana terdapat biaya pengelolaan seperti fee manajer investasi dan bank kustodian.

Suasana kegiatan Sosialisasi Reksa Dana yang digelar Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) di Kantor OJK Sulselbar. (Dok. Gita/HN)

Namun biaya tersebut umumnya sudah otomatis diperhitungkan dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB), sehingga investor tidak perlu melakukan pembayaran terpisah secara langsung.

“Semua struktur biaya sebenarnya transparan dan dapat dilihat di prospektus produk reksa dana,” ujarnya.

Reksa dana juga dinilai memiliki keunggulan dari sisi perpajakan. Menurut Marsangap, keuntungan yang diperoleh investor tidak dikenakan pajak secara langsung. “Sehingga menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat, khususnya investor pemula.”

Kemudahan lain yang ada di reksa dana, investasi dapat dilakukan secara digital melalui berbagai aplikasi dan platform keuangan sehingga lebih praktis dan mudah dijangkau.

“Sekarang masyarakat bisa investasi lewat aplikasi di ponsel, jadi lebih mudah dan fleksibel,” jelasnya.

Meski dikenal lebih praktis dan memiliki risiko relatif rendah, Marsangap tetap mengingatkan bahwa setiap investasi tetap memiliki risiko yang harus dipahami oleh investor.

“Tidak ada investasi yang benar-benar tanpa risiko. Karena itu penting memahami profil risiko dan tujuan investasi sebelum mulai berinvestasi,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar selalu memastikan produk investasi yang dipilih berasal dari lembaga resmi yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jangan mudah tergiur keuntungan besar dalam waktu singkat. Pastikan legalitas produknya jelas dan pahami cara kerjanya,” pungkasnya.

Reksa Dana Aman dan Diawasi OJK

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Mochammad Muchlasin mengedukasi masyarakat untuk senantiasa menggunakan instrumen investasi yang aman dan diawasi OJK, salah satunya reksa dana.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang investasi, khususnya reksa dana, agar masyarakat semakin memahami investasi yang aman dan legal,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026) di kantor OJK Sulselbar.

Muchlasin mengatakan pengawasan OJK dilakukan untuk memastikan perlindungan konsumen serta menjaga keamanan industri investasi di Indonesia.

“Karena itu masyarakat perlu memastikan produk investasi yang dipilih benar-benar legal dan diawasi OJK,” katanya.

Berdasarkan data OJK hingga Februari 2026, jumlah investor reksa dana di Sulawesi Selatan mencapai 569.610 investor atau tumbuh 46,43 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibanding instrumen investasi lain seperti saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

Menurut Muchlasin, tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa reksa dana semakin diterima sebagai instrumen investasi yang mudah dipahami dan cocok bagi pemula, terutama generasi muda.

Meski demikian, OJK mengingatkan bahwa investasi tetap memiliki risiko sehingga masyarakat harus memahami tujuan investasi dan profil risiko sebelum mulai berinvestasi.

“Investasi tidak hanya berbicara tentang keuntungan, tetapi juga risiko. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat bisa berinvestasi secara bijak,” jelasnya.

OJK juga mengoptimalkan perlindungan konsumen melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK/Kontak 157) dan Satgas PASTI untuk menangani pengaduan dan investasi ilegal.

PENULIS: GITA OKTAVIOLA

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda