Logo Harian.news

Sapaan Sang Giri: Novel Isna Marifa yang Menggali Sejarah Kolonial dan Sistem Perbudakan

Editor : Redaksi II Jumat, 10 April 2026 16:09
Sapaan Sang Giri, sebuah novel karya Isna Marisa yang membahas tentang sejarah kolonial dan sistem perbudakan. (Dok. Instagram @Isnamarisa)
Sapaan Sang Giri, sebuah novel karya Isna Marisa yang membahas tentang sejarah kolonial dan sistem perbudakan. (Dok. Instagram @Isnamarisa)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Novel Mountains More Ancient (Sapaan Sang Giri) karya Isna Marifa menghadirkan kekuatan sastra yang berpijak pada sejarah, identitas, dan pengalaman kemanusiaan yang mendalam.

Karya ini tidak sekadar bercerita, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang masa lalu yang membentuk realitas hari ini.

Berlatar tahun 1751, novel ini mengikuti perjalanan Wulan, seorang anak berusia sembilan tahun yang harus meninggalkan tanah kelahirannya dan menempuh perjalanan panjang menuju Cape Colony di Afrika Selatan.

Baca Juga : Usai Dikukuhkan Profesor Kehormatan UTM Malaysia, Taruna Ikrar Launching Buku ke-10 Diatas Pesawat: Menembus Langit Sains Dunia

Dalam dunia yang sepenuhnya asing, Wulan menghadapi kehilangan, keterasingan, sekaligus proses memahami jati diri.

Narasi yang dibangun Isna Marifa mengalir dengan kekuatan emosi yang halus namun menghantam.

Tema besar seperti kolonialisme, pemindahan paksa, dan diaspora tidak disampaikan secara kaku, melainkan melalui pengalaman personal tokoh-tokohnya.

Baca Juga : Dosen NU dan Muhammadiyah Kolaborasi Nulis Buku Green Economy Concept

Hal ini membuat pembaca tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga merasakannya.

Lebih dari itu, Mountains More Ancient memperlihatkan bagaimana ingatan dan identitas menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan.

Ikatan manusia dengan tanah asal digambarkan tidak pernah benar-benar terputus, meski terhalang jarak dan waktu.

Baca Juga : Buku ‘Politik Jatah Preman’ Dibedah Departemen Politik FISIP Unhas

Dari sisi artistik, novel ini juga menonjol melalui penggalian nilai-nilai budaya dan ajaran Jawa kuno yang disisipkan secara subtil dalam alur cerita.

Unsur ini memperkaya lapisan makna sekaligus memperkuat karakter naratifnya.

Seorang Pianis dan Komposer, Ananda Sukarlan menilai karya ini memiliki kedalaman yang tidak hanya estetis, tetapi juga spiritual dan historis.

Baca Juga : Gelar Diskusi Buku “Menggugat Politik Perlindungan Anak” di Kolong Fly Over Km 4 Makassar

“Alur yang mengangkat kegagalan dan harapan mampu menyentuh sisi emosional pembaca,” ucapnya dikutip Jumat (10/04/2026).

Sementara itu, Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya Halida Nuriah Hatta menyoroti kekuatan novel ini dalam menghadirkan kembali pengalaman pahit sejarah perbudakan yang sering kali terpinggirkan dalam narasi besar sejarah.

“Dengan pendekatan yang puitis sekaligus reflektif, Mountains More Ancient menjadi contoh bagaimana sastra mampu menjembatani masa lalu dan masa kini—menghidupkan kembali suara-suara yang pernah terbungkam, sekaligus mengajak pembaca memahami makna kehilangan, ketahanan, dan harapan,” pungkasnya.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda