Sebuah Refleksi atas Fenomena Politik Lokal dan Anatomi Kekuasaan di Balik Layar
Oleh: Sultan
Baca Juga : Perempuan itu Akhirnya Ditumbangkan
HARIAN.NEWS, GOWA – Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ucapkan dengan lantang. Bukan tentang siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang tersangka. Tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih gelap dan jarang tersentuh. Siapa sebenarnya yang berbicara di telinga Bupati Gowa selama ini?
Bagian I: Yang Jatuh Bukan Hanya Satu Orang
Kabupaten Gowa baru saja melewati salah satu babak terberat dalam sejarah politiknya. Bupati Sitti Husniah Talenrang resmi diberhentikan secara tidak hormat melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri. Posisinya kini dijalankan oleh Wakil Bupati, Darmawangsyah Muin, sebagai Pelaksana Tugas. Prosesnya panjang. Berliku. Dan menyakitkan.
Baca Juga : Husniah Talenrang Diberhentikan, Darmawangsyah Muin Disiapkan Memimpin Gowa
Dugaan perbuatan tercela mencuat pada Maret 2026. Gelombang unjuk rasa muncul dari masyarakat. Dugaan korupsi pengadaan seragam sekolah senilai 16 miliar ikut menyita perhatian. Belum selesai di situ, Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Polri menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka dalam kasus pemerasan dan Tindak Pidana Pencucian Uang.
DPRD mengusulkan pemberhentian pada 12 Agustus 2026. Mahkamah Agung mengabulkan permohonan uji pendapat pada 1 Oktober 2026. Dan pada 14 Oktober 2026, Mendagri menandatangani SK pemberhentian. Semua berjalan sesuai aturan. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah dibahas dalam rapat paripurna mana pun. Siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini?
Bagian II : Romantisme Hanyalah Pintu Masuk
Baca Juga : Jufri Rahman Pastikan Wabup Darmawangsyah Jabat Plt Bupati Gowa
Banyak orang menyimpulkan bahwa akar masalahnya adalah romantisme. Mungkin benar. Tetapi romantisme hanyalah pintu masuk. Ia bukan ruang utama. Karena di balik setiap pemimpin yang jatuh, selalu ada satu elemen yang jarang disebut namanya. Pembisik.
Mereka yang tidak duduk di kursi pemerintahan. Tetapi suaranya lebih didengar daripada suara rapat kabinet. Mereka yang tidak punya jabatan struktural. Tetapi bisa menentukan siapa yang boleh bertemu bupati dan siapa yang harus pulang. Mereka yang tidak muncul di foto resmi. Tetapi hadir di setiap keputusan penting. Dan justru karena tidak terlihat, mereka tidak pernah bisa disalahkan.
Bagian III: Anatomi Seorang Pembisik
Baca Juga : Bupati Gowa Jadi Tersangka, Gubernur Sulsel: Wakil Jalankan Pemerintahan hingga Ada Penetapan Plt
Dalam ilmu kekuasaan, ada satu prinsip yang jarang diajarkan di bangku kuliah. Yang paling berkuasa di sekitar raja bukan yang duduk di singgasana. Yang paling berkuasa adalah yang memegang pintu singgasana.
Bayangkan sebuah rumah. Semua yang ingin masuk harus lewat satu satpam. Mau keluarga, mau teman, mau tukang galon, mau orang bawa kabar penting, semua harus lewat dia. Dia yang menentukan siapa boleh masuk. Dia yang menentukan siapa ditahan di luar. Dia yang menentukan informasi apa yang sampai ke telinga pemilik rumah. Lama-lama, rumah itu bukan lagi rumah pemiliknya. Itu rumah sang satpam.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
