Logo Harian.news

HARIAN GOWA

Siapa Pembisik di Telinga Bupati Gowa?

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 16 Oktober 2026 19:20
Siapa Pembisik di Telinga Bupati Gowa?  ||(Kredit foto: Ilustrasi_AI@sultan)
Siapa Pembisik di Telinga Bupati Gowa? ||(Kredit foto: Ilustrasi_AI@sultan)

Ganti rumah dengan kabupaten. Ganti pemilik dengan bupati. Ganti satpam dengan pembisik. Maka kita akan mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi di Gowa.

Bagian IV: Empat Tipe Pembisik

Baca Juga : Perempuan itu Akhirnya Ditumbangkan

Dalam banyak kasus politik lokal, ada empat tipe pembisik yang hampir selalu hadir. Yang pertama adalah pembisik ideologis. Ia berbicara tentang visi, misi, dan cita-cita besar. Ia membakar semangat dengan narasi perlawanan. Tetapi di balik itu, ia sedang menanam benih konflik dengan pihak lain.

Yang kedua adalah pembisik finansial. Ia hadir dengan tawaran proyek. Ia hadir dengan janji keuntungan. Ia membuat pemimpin merasa bahwa tanpa dirinya, roda pemerintahan tidak akan berputar. Yang ketiga adalah pembisik emosional. Ia hadir saat pemimpin sedang rapuh. Ia menjadi tempat curhat. Ia menjadi sandaran hati. Dan justru karena kedekatan itulah, ia bisa mengarahkan keputusan tanpa terlihat mengarahkan.

Yang keempat adalah pembisik yang paling berbahaya. Ia adalah pembisik yang tidak terlihat. Ia tidak pernah hadir di ruangan. Tetapi namanya selalu disebut dalam setiap keputusan. Ia tidak pernah bicara langsung. Tetapi pandangannya selalu menjadi pertimbangan. Pembisik jenis ini hampir tidak mungkin dilawan. Karena ia tidak punya wajah.

Baca Juga : Husniah Talenrang Diberhentikan, Darmawangsyah Muin Disiapkan Memimpin Gowa

Bagian V: Plot Twist

Mari kita berhenti sejenak. Dan bertanya dengan jujur. Jika hari ini Bupati Gowa diberhentikan, apakah itu berarti persoalannya selesai? Tidak. Justru di situlah persoalan baru dimulai. Karena pembisik tidak ikut jatuh bersama pemimpinnya. Ia hanya berpindah. Ia mencari telinga baru. Ia mencari kursi baru. Ia mencari pemimpin baru yang bisa ia dekati, ia yakinkan, dan ia kendalikan.

Dalam teori crisis of legitimacy yang dikemukakan Jürgen Habermas, sebuah pemerintahan kehilangan wibawanya bukan ketika ada satu orang yang tersandung. Ia kehilangan wibawa ketika seluruh ekosistem politiknya lebih sibuk mengurus citra daripada mengurus rakyat. Dan pembisik adalah bagian dari ekosistem itu. Ia tidak muncul karena ada pemimpin yang lemah. Ia muncul karena ada sistem yang memungkinkan satu orang mengontrol seluruh akses.

Baca Juga : Jufri Rahman Pastikan Wabup Darmawangsyah Jabat Plt Bupati Gowa

Bagian VI: Bupati Berikutnya Menghadapi Tantangan yang Sama

Ini yang paling penting untuk kita pahami bersama. Bupati yang akan datang, siapa pun dia, punya tantangan yang sama. Punya potensi yang sama. Dan punya risiko yang sama. Ia bisa dikuatkan oleh pembisiknya. Atau ia bisa dijerumuskan oleh pembisiknya.

Sejarah tidak pernah kekurangan contoh. Banyak pemimpin besar yang jatuh bukan karena serangan lawan. Mereka jatuh karena orang-orang terdekatnya sendiri. Mereka jatuh karena percaya terlalu penuh pada satu lingkaran kecil. Mereka jatuh karena berhenti mendengar suara dari luar. Mereka jatuh karena lupa bahwa kursi yang mereka duduki bukan milik mereka. Kursi itu milik rakyat.

Baca Juga : Bupati Gowa Jadi Tersangka, Gubernur Sulsel: Wakil Jalankan Pemerintahan hingga Ada Penetapan Plt

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news
Halaman
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN

Follow Social Media Kami

KomentarAnda