Bagian VII: yang Paling Diam , itu yang Paling Menunggu
Ada satu pihak yang tidak pernah ikut bersorak. Tidak pernah ikut membela. Tidak pernah ikut menghujat. Mereka adalah rakyat Gowa. Mereka yang tetap membayar pajak. Mereka yang tetap mengantar anak ke sekolah. Mereka yang tetap berharap pelayanan publik berjalan meski pemerintahan sedang bergolak.
Baca Juga : Perempuan itu Akhirnya Ditumbangkan
Mereka tidak peduli siapa yang menjadi tersangka. Mereka tidak peduli siapa yang bersorak. Mereka hanya ingin tahu satu hal. Apakah hari esok masih lebih baik daripada hari ini? Dan jawabannya tidak tergantung pada siapa yang duduk di kursi bupati. Jawabannya tergantung pada apakah pembisik masih diberi ruang untuk bermain.
Bagian VIII: Tentang Pintu yang Harus Dibuka
Beberapa orang mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menyerahkan penyelesaian kepada proses hukum. Imbauan ini bukan tanda kelemahan. Ia adalah tanda kedewasaan. Tetapi imbauan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara kerja. Pintu menuju bupati harus dibuka lebar. Bukan untuk kepentingan politik. Tetapi untuk kepentingan rakyat.
Baca Juga : Husniah Talenrang Diberhentikan, Darmawangsyah Muin Disiapkan Memimpin Gowa
Karena pemimpin yang baik bukan yang dikelilingi banyak pembela. Pemimpin yang baik adalah yang dikelilingi banyak pendengar. Ia mendengar keluhan pasar. Ia mendengar protes petani. Ia mendengar bisik guru yang gajinya terlambat. Ia mendengar jerit rakyat yang rumahnya kebanjiran. Dan ia tidak menunggu semua itu sampai melalui filter pembisiknya.
Pesan Terakhir
Gowa sedang belajar satu hal yang mahal. Bahwa pemimpin tidak jatuh karena serangan dari luar. Pemimpin jatuh karena ia berhenti mendengar kenyataan. Dan kenyataan itu tidak pernah bisa disetop oleh siapa pun. Tidak oleh ajudan. Tidak oleh sekretaris. Tidak oleh pembisik. Karena pada akhirnya, realitas selalu punya cara untuk masuk. Kalau bukan lewat laporan, ia masuk lewat krisis. Kalau bukan lewat kritik, ia masuk lewat kehancuran.
Baca Juga : Jufri Rahman Pastikan Wabup Darmawangsyah Jabat Plt Bupati Gowa
Maka pertanyaan untuk bupati berikutnya bukan apakah ia mampu memimpin. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ia mampu mendengar. Dan kepada siapa ia memasang telinganya. Karena di situlah arah sebuah kabupaten ditentukan. Bukan di ruang rapat. Bukan di podium. Tetapi di ruangan kecil tempat bisikan berlangsung.***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
