Logo Harian.news

Unismuh Makassar Perkuat Sosialisasi Kalender Hijriah Global Tunggal di Forum Rukyat Kemenag

Editor : Redaksi II Jumat, 20 Maret 2026 12:54
Rektor Unismuh Makassar, Abdul Rakhim Nanda saat menyampaikan sambutan di momentum pemantauan hilal 1 Syawal 1447 H yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Sulawesi Selatan. (Foto: Humas Unismuh Makassar)
Rektor Unismuh Makassar, Abdul Rakhim Nanda saat menyampaikan sambutan di momentum pemantauan hilal 1 Syawal 1447 H yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Sulawesi Selatan. (Foto: Humas Unismuh Makassar)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Makassar menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) melalui momentum pemantauan hilal 1 Syawal 1447 H yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang berlangsung di observatorium Unismuh ini tidak hanya menjadi forum rukyatul hilal pemerintah, tetapi juga menjadi momen untuk menyosialisasikan KHGT sebagai sistem kalender Islam global yang kini digunakan dalam penetapan awal bulan hijriah, termasuk Idulfitri 1447 H yang telah ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Forum tersebut mempertemukan berbagai pihak seperti Kemenag, BMKG, Badan Hisab Rukyat, MUI, Pengadilan Agama, akademisi, hingga masyarakat umum. Di ruang ini, pendekatan rukyat pemerintah dan hisab Muhammadiyah melalui KHGT tidak tampil sebagai perbedaan yang konfrontatif, melainkan menjadi ruang dialog dan edukasi.

Baca Juga : Unismuh Makassar Tuan Rumah Workshop Publikasi Ilmiah Internasional Kemendiktisaintek

Rektor Unismuh Makassar, Abdul Rakhim Nanda, menegaskan bahwa Muhammadiyah telah beralih ke sistem KHGT sebagai bentuk pembaruan dalam penanggalan Islam.

“Hari ini Muhammadiyah sudah bergeser dari hisab hakiki wujudul hilal menjadi kalender hijriah global tunggal,” ujarnya, dikutip Jumat (20/03/2026).

Menurutnya, KHGT merupakan perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap awal bulan hijriah, dari pendekatan lokal menuju sistem global dengan menjadikan bumi sebagai satu kesatuan waktu umat Islam.

Baca Juga : Unismuh Makassar Gandeng Kementerian HAM, Perkuat Kesadaran Literasi Mahasiswa

Ia menjelaskan, KHGT menggunakan parameter astronomis yang lebih terstandar, yakni tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, serta mengacu pada waktu global UTC. Pendekatan ini diyakini mampu memberikan kepastian ibadah sekaligus menjawab dinamika umat Islam yang semakin terhubung lintas negara.

“Kita sangat mengharapkan secara sains bisa menjadi jalan tengah antara rukyat dan hisab, sehingga tidak ada lagi kasus puasa 28 atau 31 hari,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Ambo Asse, menekankan bahwa KHGT bukan sekadar pendekatan teknis, melainkan ikhtiar besar untuk persatuan umat Islam secara global.

Baca Juga : Rektor Unismuh Makassar Soroti Ketimpangan KIP, Dinilai Diskriminatif terhadap Mahasiswa PTS

“Harapan Muhammadiyah bukan hanya bersatu di dalam negeri, tetapi bagaimana umat Islam sedunia bisa beribadah tanpa ragu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan penentuan hari raya yang kerap terjadi menjadi latar belakang penting lahirnya gagasan kalender global ini.

“Upaya ini bukan untuk mempertajam perbedaan, tetapi justru bagaimana perbedaan itu menjadi jalan menuju persatuan umat,” tegasnya.

Baca Juga : Syawalan PWM Sulsel Bakal Dihadiri Mendikdasmen, Unismuh Ditunjuk Tuan Rumah

Di sisi lain, Kepala Badan Hisab Rukyat Sulawesi Selatan, Abbas Fadil, menjelaskan bahwa secara astronomis tinggi hilal di Makassar masih berada di bawah kriteria MABIMS, yakni sekitar 1–2 derajat.

“Dengan kondisi ini, imkanur rukyat belum terpenuhi, sehingga awal Syawal berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun keputusan final menunggu sidang isbat,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Plt Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrul Adil, yang menyebut tinggi hilal di Sulawesi Selatan berkisar 1,3–1,5 derajat dengan elongasi sekitar 5 derajat.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, mengajak masyarakat menyikapi perbedaan dengan bijak.

“Perbedaan ini adalah rahmat. Yang terpenting adalah menjaga persatuan dan saling menghormati,” katanya.

Ketua MUI Sulsel, Najamuddin Abdul Safa, juga menegaskan hal serupa.

“Silakan berbeda, tetapi tetap saling menghormati. Itu yang paling penting,” ujarnya.

Melalui momentum ini, Unismuh Makassar menegaskan posisinya tidak hanya sebagai lokasi rukyat, tetapi juga sebagai pusat sosialisasi KHGT, sebuah sistem kalender Islam global yang diharapkan mampu menghadirkan kepastian ibadah dan memperkuat persatuan umat di masa depan.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda