Logo Harian.news

ASU PANTING: Rumah Buku SaESA Ajak Publik Menelusuri Ketakutan Yang Diwariskan

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 12 Juni 2026 21:30
ASU PANTING: rumah buku SaESA ajak publik menelusuri ketakutan yang diwariskan || (dok_runahbukusaesa)
ASU PANTING: rumah buku SaESA ajak publik menelusuri ketakutan yang diwariskan || (dok_runahbukusaesa)

HARIAN.NEWS, BULUKUMBA – Setelah Parakang berhasil memancing banyak percakapan tentang ketakutan yang hidup di tengah masyarakat, Rumah Buku SaESA kembali membuka Open Submission Gelar Zine dengan tema yang masih berjalan di lorong yang sama: ketakutan, mitos, dan cerita yang diwariskan tanpa pernah benar-benar diperiksa. Tema itu bernama: Asu Panting.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, permintaan agar Open Submission kembali dibuka terus berdatangan. Seolah masih banyak cerita yang belum selesai dituliskan. Masih banyak kegelisahan yang belum sempat mendapat tempat. Dan masih banyak ketakutan yang selama ini hanya diterima sebagai warisan tanpa pernah diajak berdiskusi.

Baca Juga : Malam Parakang Membuka Ruang Percakapan, Mengurai Ketakutan Menjadi Pengetahuan di Rumah Buku SaESA

Asu Panting sendiri bukan nama yang asing dalam cerita rakyat Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam berbagai tuturan yang beredar dari generasi ke generasi, makhluk ini digambarkan sebagai sosok gaib menyerupai serigala atau anjing buas. Ia hidup dalam cerita-cerita malam, menjadi penghuni percakapan yang sering kali lebih dipercaya daripada fakta yang bisa diperiksa.

Sebagian orang mengenalnya sebagai makhluk mistis. Sebagian lain mengenalnya sebagai cerita pengantar tidur yang terlalu serius untuk dianggap dongeng. Di antara keduanya, Asu Panting terus bertahan sebagai pustaka lisan yang belum selesai dibaca.

Tidak ada bukti ilmiah yang memastikan keberadaannya. Namun seperti banyak ketakutan lain di dunia ini, keberadaan bukanlah syarat utama agar sesuatu dapat dipercaya. Cukup diwariskan berkali-kali, maka sebuah cerita dapat hidup lebih lama daripada pengetahuan.

Baca Juga : Tradisi Mappadekko kian Asing, Gelar Zine Bulukumba Hadirkan Ingatan

Karena itulah SaESA memilih tema ini. Bukan untuk membenarkan ketakutan. Bukan pula untuk menertawakan mereka yang mempercayainya. Melainkan untuk membuka ruang agar cerita-cerita lokal dapat dibicarakan kembali dengan cara yang lebih sehat: ditulis, diperdebatkan, dipertanyakan, dan dipahami.

Open Submission Gelar Zine tema Asu Panting dibuka pada 12–20 Juni 2026. Publik dipersilakan mengirimkan karya dalam berbagai bentuk, mulai dari esai, cerpen, puisi, biografi, poster, lirik, hingga catatan-catatan yang selama ini hanya tersimpan dalam kepala.

Bahkan mimpi yang belum sempat diceritakan pun diberi tempat. Bagi SaESA, cerita rakyat tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai alat menakut-nakuti anak-anak agar cepat pulang ke rumah. Cerita juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami cara suatu masyarakat membangun pengetahuan, menciptakan simbol, dan merawat ingatan kolektifnya.

Baca Juga : Bukan Sekadar Baca Buku, Rumah Buku SaESA Rawat Literasi Lewat Lingkar Pertemuan

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : SAKKIR ( KOMUNITAS RUMAH BUKU)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda